Ma'had Sabilul Qur'an

Pimpinan Ma’had Sabilul Qur’an, Ustaz Agus Fadilla Sandi, Ikuti Konferensi Pendidikan Pesantren 2025 Bahas Mutu dan Regulasi Pesantren

Pimpinan Ma’had Sabilul Qur’an, Ustaz Agus Fadilla Sandi, Ikuti Konferensi Pendidikan Pesantren 2025 Bahas Mutu dan Regulasi Pesantren

Jakarta, 5 November 2025 — Pimpinan Ma’had Sabilul Qur’an (MSQ) Cibinong, Bogor, Ustadz Agus Fadilla Sandi, menjadi salah satu peserta terpilih dalam Konferensi Pendidikan Pesantren (Annual Conference on Pesantren Education / المؤتمر السنوى للمعاهد الاسلامية) yang diselenggarakan oleh Majelis Masyayikh Republik Indonesia di Birawa Assembly Hall, Hotel Bidakara Jakarta, pada Rabu–Jumat, 5–7 November 2025.

Pimpinan Ma’had Sabilul Qur’an, Ustaz Agus Fadilla Sandi, Ikuti Konferensi Pendidikan Pesantren 2025 Bahas Mutu dan Regulasi Pesantren

Kegiatan nasional ini mengusung tema “Rekognisi, Afirmasi, dan Fasilitasi Pendidikan Pesantren untuk Pendidikan Bermutu yang Berkeadilan”, sekaligus menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri 2025. Sebanyak 300 peserta dari berbagai daerah di Indonesia hadir, baik melalui undangan langsung maupun hasil seleksi nasional. Ustaz Agus Fadilla Sandi menjadi salah satu peserta yang lulus seleksi dan hadir mewakili unsur pesantren dan organisasi keagamaan dari wilayah Kabupaten Bogor.

Konferensi Pendidikan Pesantren 2025 : Konferensi Perdana dalam Sejarah Pendidikan Pesantren Nasional

Konferensi ini tercatat sebagai konferensi pendidikan pesantren pertama dalam sejarah Indonesia, yang menjadi tonggak implementasi Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren. Sebagai penyelenggara, Majelis Masyayikh Republik Indonesia berperan penting dalam memastikan standar mutu, rekognisi, dan arah kebijakan pendidikan pesantren di tingkat nasional.

Dalam Pidato Kunci pertama, K.H. Abdul Ghofar Rozin, Ketua Majelis Masyayikh RI, menyampaikan tema “Tantangan Pendidikan Pesantren Pasca UU 18 Tahun 2019.”

“UU Pesantren menjadi rumah konstitusi perdana bagi pesantren. Ia menegaskan bahwa pesantren bukan hanya lembaga pendidikan, tetapi juga berfungsi sebagai pusat dakwah dan pemberdayaan masyarakat. Majelis Masyayikh hadir sebagai katalisator komunikasi antara pesantren dan pemerintah, terutama dalam hal penjaminan mutu,” ujar Kiai Ghofar.

Konferensi Pendidikan Pesantren 2025 – Menteri Agama: Di Pesantren, Santri Belajar Ilmu Allah Melalui Guru, Bukan Sekadar dari Guru

Pidato Kunci kedua disampaikan oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, M.A., dengan tema “Menjaga Pesantren dalam Kebijakan Negara untuk Mewujudkan Pendidikan Indonesia yang Bermutu.”

Dalam arahannya, beliau menekankan karakteristik pesantren yang membedakannya dari lembaga pendidikan lain.

“Harus kita bedakan antara sekolah umum, madrasah, dan pesantren. Di sekolah, peserta didik belajar ilmu dari guru; sementara di pesantren, santri belajar ilmu-Nya Allah melalui para guru. Itulah keistimewaan pesantren yang harus kita jaga,” tegas Prof. Nasaruddin.

Beliau menambahkan, pesantren adalah lembaga pembentukan karakter, spiritualitas, dan peradaban Islam yang menjadi kekuatan moral bangsa. Oleh karena itu, kebijakan negara harus memberi ruang afirmatif dan rekognitif agar pesantren dapat terus berkembang tanpa kehilangan identitasnya.

Konferensi Pendidikan Pesantren 2025 – Ustaz Agus: Momentum untuk Memahami Hakikat Pesantren dan Regulasi Nasional

Menanggapi kegiatan ini, Ustadz Agus Fadilla Sandi menilai konferensi tersebut sebagai momentum penting bagi para pimpinan pesantren untuk memperdalam pemahaman terhadap regulasi kepesantrenan sekaligus meneguhkan kembali hakikat pesantren dalam sistem pendidikan nasional.

“Kegiatan ini membuka wawasan tentang regulasi dan hakikat pesantren. Bahwa pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan, tetapi tempat lahirnya generasi berilmu, berakhlak, dan bermanfaat bagi umat,” ujar Ustadz Agus.

Formulir Program Orang Tua Asuh Santri Dhuafa

Beliau juga menegaskan bahwa Ma’had Sabilul Qur’an (MSQ) berkomitmen menjalankan sistem pesantren yang bermutu, profesional, dan sesuai tuntunan syariat, dengan terus memperkuat pelayanan pendidikan berbasis manajemen mutu ISO 21001:2018, yaitu standar internasional untuk sistem manajemen organisasi pendidikan.

“Standar mutu ISO 21001:2018 menjadi pijakan bagi kami di MSQ dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan, baik dalam hal kurikulum, pembinaan SDM, maupun tata kelola kelembagaan. Harapannya, pesantren kita dapat terus unggul tanpa kehilangan ruh keikhlasan dan ketulusan yang menjadi jati diri pesantren,” tambahnya.

Konferensi ini diharapkan menjadi agenda rutin tahunan yang memperkuat sinergi antara pesantren, pemerintah, dan masyarakat untuk mewujudkan pendidikan Islam yang bermutu, berkeadilan, dan berkarakter keindonesiaan.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *