Muqoddimah
Menghafal Al-Qur’an adalah kemuliaan yang besar dan anugerah agung yang Allah berikan kepada hamba-hamba pilihan-Nya. Menghafal Al-Qur’an adalah kemuliaan yang tidak ada bandingannya. Allah ﷻ mengangkat dan memuliakan hamba-hamba-Nya melalui Al-Qur’an sesuai dengan iman dan kedekatan mereka dengannya. Termasuk kehormatan terbesar bagi seorang muslim adalah ketika Allah menjadikan dadanya sebagai tempat bersemayam kalam-Nya. (al-Muqaddim, h.9)
Jika seseorang dianugerahi hafalan Al-Qur’an, maka itu lebih agung daripada pencapaian dunia setinggi apa pun, karena kemuliaan ini bukan hanya bernilai di dunia, tetapi juga akan menjadi cahaya di alam kubur dan bekal keselamatan di akhirat.
Rasulullah ﷺ menegaskan hal ini dalam sabdanya:
إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا، وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ
“Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu kaum dengan Kitab ini dan merendahkan kaum yang lain dengannya.” (HR. Muslim, 817)
Kemuliaan tersebut akan tampak lebih sempurna lagi pada hari Kiamat, ketika para penghafal Al-Qur’an dipanggil dan dimuliakan di hadapan seluruh makhluk. Mereka diperintahkan untuk membaca Al-Qur’an sebagaimana dahulu mereka menjaganya di dunia, lalu naik setahap demi setahap sesuai dengan hafalan yang mereka miliki. Inilah kemuliaan sejati yang tidak dapat ditandingi oleh gelar, jabatan, maupun kehormatan dunia apa pun.
Rasulullah ﷺ bersabda:
يُقالُ لصاحِبِ القرآنِ اقرأ وارتَقِ ورتِّل كما كنتَ ترتِّلُ في الدُّنيا فإنَّ منزلَكَ عندَ آخرِ آيةٍ تقرؤُها
“Akan dikatakan kepada pemilik Al-Qur’an: ‘Bacalah, naiklah, dan bacalah dengan tartil, karena sesungguhnya kedudukanmu berada pada ayat terakhir yang engkau baca.’” (HR. Abu Dawud, 1464 dan Tirmidzi, 2914).
Menyadari besarnya keutamaan menghafalkan Al-Qur’an, tidak sedikit kaum muslimin bertanya: apakah ada cara cepat untuk menghafal Al-Qur’an? Namun, sebelum membahas metode dan strategi yang tepat, penting untuk meluruskan satu pertanyaan mendasar: apakah menghafal Al-Qur’an merupakan kewajiban bagi setiap muslim?
Para ulama menjelaskan bahwa kewajiban menghafal Al-Qur’an memiliki kadar dan tingkatan. Setiap muslim diwajibkan menghafal bagian Al-Qur’an yang dengannya ia dapat menunaikan shalat dan ibadah dengan benar. Adapun menghafal Al-Qur’an secara keseluruhan bukanlah kewajiban individu (fardhu ‘ain), melainkan termasuk fardhu kifayah. Artinya, apabila sebagian kaum muslimin telah melaksanakannya, maka gugurlah kewajiban tersebut dari yang lain. Berbekal pemahaman ini, menghafal Al-Qur’an tidak lagi dipandang sebagai beban yang menakutkan, melainkan sebagai kemuliaan besar yang Allah mudahkan sesuai kesanggupan masing-masing hamba-Nya.
Maka, kembali ke pertanyaan: apakah ada cara cepat untuk menghafal Al-Qur’an?
Jawabannya: ada!
Kendati demikian, kecepatan dalam menghafal Al-Qur’an tidak dapat dilepaskan dari manhaj yang benar. Melalui tulisan singkat ini diurai bagaimana pendekatan syar’i dan pedagogis yang aplikatif, insyaAllah membantu mempercepat hafalan sekaligus mengokohkannya.
Cara Menghafal Al-Qur’an dengan Cepat
Pertama: Meluruskan Niat
Di antara kunci paling mendasar dalam keberhasilan menghafal Al-Qur’an adalah meluruskan niat sejak awal. Menghafal Al-Qur’an bukan sekadar aktivitas intelektual atau pencapaian personal, melainkan ibadah agung yang seharusnya ditujukan untuk mendekatkan diri kepada Allah ﷻ dan meraih ridha-Nya. Ketika niat dibangun di atas keikhlasan, maka proses menghafal akan bernilai ibadah, sekecil apa pun capaian hafalan yang diperoleh.
Rasulullah ﷺ menegaskan pentingnya niat dalam setiap amal:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjadi landasan bahwa kualitas hafalan Al-Qur’an tidak hanya diukur dari banyaknya ayat yang diingat, tetapi juga dari tujuan dan motivasi di baliknya. Niat yang lurus akan melahirkan kesungguhan, kesabaran, dan ketahanan mental ketika menghadapi fase-fase sulit dalam menghafal, terutama di masa-masa awal yang sering kali terasa berat dan melelahkan.
Dalam perjalanan tahfizh, seorang penghafal dituntut untuk melibatkan seluruh potensi jiwa dan pikirannya secara konsisten. Di sinilah niat berperan sebagai sumber energi batin yang menjaga semangat agar tetap istiqamah. Saat niatnya benar, seseorang akan lebih mudah menjauhi sifat malas, menahan diri dari hal-hal yang melalaikan, serta mengelola waktu dengan lebih bijak. Semua itu menjadi bekal penting agar proses menghafal Al-Qur’an berjalan lebih fokus, efektif, dan berkesinambungan hingga mencapai hafalan yang kokoh dan penuh keberkahan.
Kedua: Memperbanyak Doa dan Tawakal kepada Allah
Menghafal Al-Qur’an pada hakikatnya bukan semata hasil kecerdasan, metode, atau ketekunan manusia, melainkan terlebih dahulu merupakan taufik dan karunia dari Allah ﷻ. Usaha yang sungguh-sungguh adalah kewajiban seorang hamba, namun keberhasilan hafalan tetap bergantung pada pertolongan Allah. Oleh karena itu, doa dan tawakal menjadi fondasi ruhani yang tidak boleh dipisahkan dari proses menghafal Al-Qur’an.
Rasulullah ﷺ sendiri, yang merupakan manusia paling sempurna ilmunya, senantiasa memohon kepada Allah agar diberi ilmu yang bermanfaat dan ditambahkan pemahaman. Di antara doa yang beliau ajarkan adalah:
اللهمَّ انفعْني بما علَّمتني وعلِّمْني ما يَنفعُني وزِدْنِي علمًا
“Ya Allah, berilah aku manfaat dari ilmu yang Engkau ajarkan, ajarkan kepadaku apa yang bermanfaat bagiku, dan tambahkanlah aku ilmu.” (HR. at-Tirmidzi, 3599 dan Ibnu Majah, 3833)
Doa ini mengajarkan bahwa ilmu—termasuk hafalan Al-Qur’an—bukan sekadar banyaknya yang diingat, tetapi sejauh mana ia memberi manfaat, menenangkan hati, dan mendorong amal. Seorang penghafal Al-Qur’an hendaknya membiasakan doa ini agar hafalan yang diperoleh benar-benar menjadi cahaya dalam kehidupannya.
Tawakal dalam menghafal Al-Qur’an berarti menyerahkan hasil sepenuhnya kepada Allah setelah melakukan ikhtiar terbaik. Seorang penghafal tidak mudah putus asa ketika hafalan terasa lambat, tidak sombong ketika hafalan terasa mudah, dan tidak berhenti berusaha meski menghadapi kejenuhan. Ia meyakini bahwa setiap ayat yang diulang dengan niat ikhlas akan dicatat sebagai ibadah, meskipun hafalan belum sempurna.
Inilah rahasia penting dalam mempercepat hafalan Al-Qur’an: menggabungkan kesungguhan usaha dengan kekuatan doa dan ketulusan tawakal. Ketika hati bergantung kepada Allah, maka Al-Qur’an akan lebih mudah menetap, bukan hanya di ingatan, tetapi juga di dalam jiwa.
Ketiga: Memahami Ayat Sebelum Menghafal
Pemahaman merupakan jalan pintas menuju hafalan yang kuat. Menghafal Al-Qur’an tanpa memahami maknanya ibarat mengikat sesuatu tanpa simpul yang kuat—mudah terlepas dan sulit bertahan lama. Ketika seorang penghafal memahami pesan dan maksud ayat yang ia hafalkan, maka ayat tersebut tidak hanya melekat di lisan, tetapi juga hidup di dalam hati dan pikirannya. Inilah sebabnya mengapa hafalan yang disertai pemahaman cenderung lebih cepat terbentuk dan lebih stabil.
Allah Ta’ala menegaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan bukan sekadar untuk dibaca, tetapi untuk ditadabburi dan direnungi maknanya:
كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ
“Ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya.” (QS. Ṣād: 29)
Memahami ayat sebelum menghafal dapat dilakukan melalui langkah-langkah sederhana namun efektif, seperti membaca tafsir ringkas—misalnya Tafsir as-Sa‘di atau Tafsir Jalalain—untuk mengetahui makna global ayat, mengenali tema besar dalam satu rangkaian ayat, serta memperhatikan hubungan antara ayat satu dengan yang lainnya. Melalui pendekatan demikian, hafalan tidak lagi bersifat mekanis, tetapi menjadi proses interaksi aktif dengan Al-Qur’an, sehingga lebih cepat tertanam, lebih hidup, dan lebih tahan lama.
Keempat: Menggunakan Satu Mushaf Khusus
Menggunakan satu mushaf yang sama—baik dari sisi tulisan maupun tata letaknya—sangat membantu dalam membangun daya ingat visual, yang berperan besar dalam mempercepat proses menghafal. Setiap penerbit mushaf biasanya memiliki perbedaan kecil, seperti letak ayat, akhir halaman, atau bentuk huruf. Jika seorang penghafal sering berganti mushaf, perbedaan-perbedaan ini dapat mengacaukan memori visual yang telah terbentuk, sehingga berpotensi menimbulkan kebingungan atau keraguan ketika hafalan terputus di tengah ayat.
Oleh karena itu, para pengajar Al-Qur’an banyak menganjurkan agar seorang hafiz setia menggunakan satu mushaf utama secara konsisten. Meskipun tidak ada ketentuan syariat yang melarang penggunaan mushaf yang berbeda-beda, menjaga konsistensi pada satu mushaf terbukti menjadi cara yang efektif untuk memperkuat hafalan dan membantu mencapai hafalan yang lebih mutqin dan stabil.
Kelima: Menentukan Waktu dan Tempat yang Tepat
Seorang penuntut ilmu dan penghafal Al-Qur’an dituntut untuk mengelola waktu siang dan malamnya secara bijak serta menghargai sisa umur yang dimilikinya. Setiap detik yang berlalu adalah modal berharga yang tidak boleh disia-siakan, karena keberkahan hafalan sangat erat kaitannya dengan bagaimana seseorang mengatur waktunya dan memilih momen terbaik untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an.
Para ulama telah menjelaskan bahwa setiap aktivitas keilmuan memiliki waktu paling ideal. Imam Al-Khatib Al-Baghdadi rahimahullah menegaskan bahwa waktu terbaik untuk menghafal adalah saat sahur, kemudian pertengahan siang, lalu pagi hari. Ia juga menyatakan bahwa menghafal pada malam hari lebih bermanfaat dibandingkan siang hari, dan menghafal dalam kondisi lapar lebih efektif daripada dalam keadaan kenyang (Ibn Jamā‘ah, h. 73). Penjelasan ini menunjukkan bahwa kejernihan pikiran, ketenangan jiwa, serta kesederhanaan kondisi fisik sangat memengaruhi kekuatan hafalan.
Tidak diragukan lagi bahwa waktu-waktu menjelang fajar menjadi saat yang paling ideal untuk menghafal Al-Qur’an, karena pikiran masih segar dan hati lebih mudah khusyuk. Tidak sedikit pula para huffāzh yang merasakan kuatnya dampak hafalan yang dilakukan pada malam hari, khususnya ketika suasana sunyi dan gangguan sangat minim. Keutamaan waktu pagi ini juga ditegaskan dalam sabda Rasulullah ﷺ:
اللَّهمَّ بارِكْ لأمَّتي في بُكورِها
“Ya Allah, berkahilah umatku pada waktu paginya.” (HR. Abu Dawud, 2606)
Selain pengaturan waktu, pemilihan tempat juga berperan besar dalam kualitas hafalan. Lingkungan yang tenang, tertutup, dan jauh dari hal-hal yang melalaikan merupakan tempat terbaik untuk menghafal Al-Qur’an. Sebaliknya, tempat yang ramai, bising, atau penuh distraksi visual cenderung memecah konsentrasi dan menghalangi kekhusyukan hati. Oleh karena itu, menggabungkan waktu yang tepat dengan tempat yang kondusif menjadi strategi penting agar hafalan Al-Qur’an dapat tertanam lebih cepat, lebih kuat, dan terjaga secara berkesinambungan.
Keenam: Menghafal dengan Pengulangan Terstruktur (Tikrar)
Salah satu metode paling efektif dan terbukti cepat dan kuat dalam menghafal Al-Qur’an adalah metode pengulangan yang terencana dan konsisten, yang dikenal dengan metode tikrar. Metode ini menekankan proses mengulang bacaan secara sistematis hingga hafalan benar-benar tertanam kokoh dan melekat dalam ingatan. Bahkan, banyak praktisi tahfizh menyebut tikrar sebagai metode “menghafal tanpa merasa menghafal”, karena hafalan terbentuk secara alami melalui frekuensi bacaan yang tinggi dan berulang.
Secara bahasa, kata tikrar berasal dari bahasa Arab yang berarti mengulang-ulang sesuatu. Dalam praktik tahfizh, metode ini bertujuan memindahkan ayat-ayat Al-Qur’an dari memori jangka pendek menuju memori jangka panjang melalui pembiasaan lisan yang teratur dan berkesinambungan. Prosesnya diawali dengan memastikan bacaan ayat benar sejak awal sesuai kaidah tajwid, agar tidak tertanam kesalahan yang sulit diperbaiki. Setelah itu, ayat dibaca berulang kali sambil melihat mushaf hingga lisan terasa lancar, kemudian dilanjutkan dengan pengulangan tanpa melihat mushaf untuk menguji dan menguatkan hafalan. Setiap ayat yang telah dikuasai lalu disambungkan dengan ayat sebelumnya dan diulang bersama-sama sampai benar-benar menyatu, sebelum berpindah ke ayat berikutnya.
Metode tikrar bukanlah pendekatan baru. Para ulama dan huffazh generasi terdahulu telah lama menjadikannya sebagai pilar utama dalam menjaga kekuatan hafalan. Dahulu, Imam al-Bukhari ketika beliau ditanya tentang rahasia kekuatan hafalannya, beliau menjawab bahwa dirinya tidak menemukan cara yang lebih efektif dalam menghafal selain terus-menerus melihat tulisan dan mengulang-ulang lafaz, karena hakikat hafalan memang terletak pada pengulangan yang konsisten.
Syaikh Abu Umar al-‘Iraqy menyebutkan bahwa para santri tahfizh di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram di Makkah biasa mengulang setiap ayat yang dihafal hingga sekitar empat puluh kali. Praktik tersebut menunjukkan bahwa kekokohan hafalan Al-Qur’an tidak dibangun secara instan, tetapi melalui disiplin pengulangan yang tinggi.
Benarlah suatu kaedah yang mengatakan,
تِكْرَارُ اللَّفْظِ يُثْمِرُ ثُبُوتَهُ فِي الْقَلْبِ
“Pengulangan lafaz akan menumbuhkan ketetapan hafalan di dalam hati.”
Menariknya, prinsip tikrar juga sejalan dengan temuan ilmu pengetahuan modern. Penelitian dalam bidang kesehatan dan kognisi menyimpulkan bahwa repetisi merupakan kunci utama dalam proses mengingat. Salah satu kesimpulan riset menyatakan: “Repetition is the key to memorization. The more you say it, the more likely you’ll remember it” — pengulangan adalah kunci hafalan; semakin sering sesuatu diucapkan, semakin kuat ingatan terhadapnya.
Dengan demikian, metode tikrar tidak hanya memiliki landasan kuat dari tradisi ulama dan pengalaman para huffazh, tetapi juga didukung oleh pendekatan ilmiah modern. Jika diterapkan secara disiplin, terstruktur, dan berkesinambungan, metode ini mampu mempercepat proses hafalan sekaligus menjaga ketahanannya agar tetap kokoh, stabil, dan mudah dipanggil kembali kapan pun dibutuhkan.
Baca Juga: Apa Itu Ziyadah dalam Hafalan Al-Qur’an? Ziyadah adalah
Ketujuh: Mengoptimalkan Simā’an dan Talaqqī
Al-Qur’an sejak awal diturunkan dan diwariskan melalui jalur pendengaran sebelum kemudian dituliskan dalam mushaf. Oleh karena itu, proses menghafal Al-Qur’an tidak dapat dilepaskan dari simā’an (mendengarkan bacaan) dan talaqqī (menerima bacaan secara langsung dari guru). Metode ini bukan sekadar sarana teknis, tetapi merupakan bagian dari sunnah ilmiah dalam menjaga keaslian bacaan dan memperkuat hafalan. Allah Ta’ala memerintahkan agar Al-Qur’an dibaca dengan tartil, yakni bacaan yang jelas, teratur, dan sesuai kaidahnya:
﴾ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا ﴿
“Dan bacalah Al-Qur’an dengan tartil.” (QS. Al-Muzzammil: 4)
Teladan paling agung dalam simā’an dan talaqqī adalah Rasulullah ﷺ sendiri. Setiap bulan Ramadan, beliau senantiasa bertadarus Al-Qur’an bersama Malaikat Jibril ‘alaihis salam. Pada peristiwa tersebut, Jibril membacakan Al-Qur’an dan Rasulullah ﷺ menyimak serta mengulanginya. Bahkan, pada tahun terakhir kehidupan beliau, tadarus itu dilakukan sebanyak dua kali. Hal ini menunjukkan bahwa penguatan hafalan melalui pendengaran dan pengulangan merupakan metode yang sangat ditekankan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَكانَ جبريلُ يلقاهُ في كلِّ ليلةٍ من شَهرِ رمضانَ فيدارسُهُ القرآنَ
“Jibril menemui Nabi ﷺ setiap malam di bulan Ramadan dan membacakan (men-tadarus-kan) Al-Qur’an bersamanya.” (HR. al-Bukhari, 3220 dan Muslim, 2308)
Selain menerima bacaan dari Jibril, Rasulullah ﷺ juga kerap mendengarkan bacaan Al-Qur’an dari para sahabatnya. Beliau bahkan meminta secara khusus agar Al-Qur’an dibacakan kepadanya, meskipun Al-Qur’an diturunkan kepada beliau. Hal ini menegaskan pentingnya simā’an sebagai sarana memperdalam penghayatan dan memperkokoh hafalan.
Rasulullah ﷺ bersabda kepada Abdullah bin Mas‘ud radhiyaallahu ‘anhu:
اقرَأْ عليَّ النِّساءَ . قال : قلتُ : أقرأُ عليك وعليك أُنزِل ؟ قال : إنِّي أحبُّ أن أسمعَه من غيري . قال : فقرأتُ عليه حتَّى إذا انتهيْتُ إلى قولِه فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلَاءِ شَهِيدًا الآيةِ ، فرفعتُ رأسي فإذا عيناه تَهمِلان
Rasulullah ﷺ bersabda, “Bacakan kepadaku surat An-Nisā’.” Aku berkata, “Apakah aku akan membacakannya kepadamu, sementara kepadamu Al-Qur’an diturunkan?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya aku senang mendengarnya dari orang lain.” Maka aku pun membacakan surat tersebut hingga sampai pada firman Allah Ta‘ālā, “Maka bagaimanakah (keadaan mereka) apabila Kami mendatangkan seorang saksi dari setiap umat, dan Kami mendatangkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka semua?” (QS. An-Nisā’: 41). Aku pun mengangkat kepalaku, dan ternyata kedua mata beliau ﷺ berlinang air mata. (HR. al-Bukhari, 4582 dan Muslim, 800 tanpa redaksi “تَهمِلان”)
Kebiasaan Nabi ﷺ ini menunjukkan bahwa mendengarkan bacaan Al-Qur’an memiliki nilai tarbawi dan ruhani yang sangat tinggi. Bagi para penghafal, simā’an membantu memperbaiki makhraj dan tajwid, menguatkan hafalan, serta mengasah memori auditori. Untuk hasil yang optimal, disarankan memilih satu qāri yang dikenal mutqin dan konsisten dalam bacaannya—seperti Syaikh Mahmud Khalil al-Hushary atau Syaikh Muhammad Siddiq al-Minshawi—agar telinga terbiasa dengan bacaan yang benar dan hafalan semakin kokoh terjaga.
Kedelapan: Murāja’ah adalah Rahasia Kuatnya Hafalan
Tidak ada hafalan Al-Qur’an yang bertahan lama tanpa murāja’ah. Al-Qur’an adalah hafalan yang sangat cepat terlepas dari ingatan jika tidak terus dijaga dan diulang. Maka, Rasulullah ﷺ secara tegas memerintahkan para sahabat untuk senantiasa memperhatikan dan merawat hafalan Al-Qur’an mereka.
Rasulullah ﷺ bersabda:
تَعاهَدُوا هذا القُرْآنَ، فَوالذي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بيَدِهِ لَهو أشَدُّ تَفَلُّتًا مِنَ الإبِلِ في عُقُلِها
“Jagalah Al-Qur’an ini, karena demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh ia lebih cepat lepas daripada unta yang terikat.” (HR. al-Bukhari, 5033 dan Muslim, 791)
Kemudahan dalam menghafal Al-Qur’an adalah taufik dari Allah, namun menjaga hafalan tersebut tetap membutuhkan usaha. Para ulama mengibaratkan hafalan Al-Qur’an seperti seseorang yang telah memperoleh permata berharga. Mendapatkannya memang dimudahkan, tetapi menjaganya agar tidak hilang memerlukan penjagaan, kehati-hatian, dan perhatian terus-menerus. Murāja’ah adalah bentuk penjagaan terhadap “permata” tersebut.
Rasulullah ﷺ juga menjelaskan solusi yang sangat jelas dan praktis dalam menjaga hafalan:
إنَّما مَثَلُ صاحِبِ القُرْآنِ كَمَثَلِ الإبِلِ المُعَقَّلَةِ، إنْ عاهَدَ عليها أمْسَكَها، وإنْ أطْلَقَها ذَهَبَتْ. [وفي رواية]: وإذا قامَ صاحِبُ القُرْآنِ فَقَرَأَهُ باللَّيْلِ، والنَّهارِ ذَكَرَهُ، وإذا لَمْ يَقُمْ به نَسِيَهُ
“Sesungguhnya perumpamaan pemilik Al-Qur’an itu seperti unta yang diikat; jika ia terus menjaganya, ia akan menahannya, tetapi jika ia melepaskannya, maka unta itu akan pergi.” (Dalam riwayat lain disebutkan): “Apabila pemilik Al-Qur’an senantiasa membacanya pada malam dan siang hari, ia akan mengingatnya; namun jika ia tidak menjaganya (tidak membacanya), ia akan melupakannya.” (HR. Muslim, 789)
Oleh karena itu, murāja’ah bukan sekadar pelengkap hafalan, tetapi inti dari keberlangsungan hafalan itu sendiri. Membaca Al-Qur’an dalam shalat, mengulang hafalan harian, serta menjadwalkan murāja’ah harian, mingguan dan bulanan merupakan bentuk nyata dari perintah ta‘āhud al-Qur’ān (menjaga Al-Qur’an).
Ikhtitam dari Artikel Cara Menghafal Al-Qur’an dengan Cepat
Menghafal Al-Qur’an bukanlah perlombaan waktu, melainkan perjalanan kejujuran dan keteguhan seorang hamba dalam mempelajari kalam-Nya. Siapa yang jujur dalam usahanya, Allah akan menyampaikannya pada tujuannya.
Allah Ta’ala berfirman:
﴾ وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ﴿
“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-‘Ankabūt: 69)
Mulailah hari ini, walau hanya satu ayat. Sebab Al-Qur’an tidak akan memberikan sebagian dari dirinya, hingga engkau menyerahkan kesungguhanmu sepenuhnya.
Ditulis Oleh: Abu Musa, Ustadz Agus Fadilla Sandi, S.H., M.Ag.