Dalam pembelajaran tahfidz seperti di Ma’had Sabilul Qur’an, kita sering mendengar dua istilah yang berjalan beriringan: ziyadah dan muroja’ah. Keduanya menjadi bagian penting dalam proses menghafal Al-Qur’an.
Secara bahasa, kata ziyadah berasal dari Bahasa Arab زاد – يزيد – زيادةً (zaada – yaziidu – ziyaadatan), yang berarti bertambah atau menambah. Dalam konteks tahfidz, ziyadah adalah kegiatan menambah hafalan baru, ayat-ayat yang belum pernah dihafalkan sebelumnya. Sedangkan muroja’ah adalah mengulang hafalan yang sudah dikuasai agar tidak hilang.

Keduanya seperti dua komponin yang saling mendukung untuk membuat proses program tahfidz berjalan kokoh:
- Ziyadah → menambah hafalan baru
- Muroja’ah → menjaga hafalan agar tetap kuat
Baca Juga : Metode Murojaah Terbaik untuk Hafalan Al-Qur’an – Panduan Praktis & Efektif
Jika hanya fokus pada satu sisi — menambah tanpa menjaga, atau menjaga tanpa berkembang — maka hasil hafalan tidak optimal.
Ziyadah Adalah Bagian Penting dalam Proses Hafalan Al-Qur’an
- Ziyadah membantu menambah jumlah hafalan secara bertahap.
- Menjadikan hafalan sebagai bagian dari rutinitas belajar — membentuk disiplin dan konsistensi.
- Memberi arah dan target jelas bagi santri: setiap hari bisa ada “tambahan” hafalan baru.
Baca Juga : Cara Menghafal Al-Qur’an dengan Cepat
Tantangan dalam Ziyadah Hafalan Al Quran
Tidak mudah menambah hafalan baru , dibutuhkan fokus, ketekunan, dan kesabaran. Ada ayat yang panjang, bacaan harus benar, dan pengulangan supaya benar-benar hafal. Di sinilah peran muroja’ah penting agar hafalan yang baru tidak mudah hilang.
“Ziyadah adalah latihan sabar yang berulang; menambah hafalan sedikit demi sedikit, tapi hasilnya besar untuk seumur hidup.”
Kesimpulan
Ziyadah adalah upaya terencana menambah hafalan Al-Qur’an — bukan sekadar “nghafal asal lewat”, melainkan dengan ketelitian dan bimbingan. Dipadu muroja’ah, proses hafalan bakal kokoh, konsisten, dan bisa tahan lama. Dengan demikian, seorang santri dapat terus berkembang menuju hafalan yang mutqin.