
YOGYAKARTA (MSQ) — Ma’had Sabilul Qur’an (MSQ) mengutus dua unsur pimpinan untuk mengikuti Workshop Nasional Guru Bahasa Arab bertajuk “Sekolah dan Pesantren Visioner” di Hotel Sahid Raya Yogyakarta, Sabtu (27/6/2026). Keikutsertaan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar MSQ memperkuat mutu pembelajaran dan membangun lingkungan berbahasa Arab yang lebih hidup, terukur, serta sesuai dengan kebutuhan santri.
MSQ diwakili Ustadz Agus Fadilla Sandi, S.H., M.Ag., selaku Mudir MSQ Bidang SDM dan Dakwah, serta Ustadz Muhammad Saleh, M.Ag., selaku Kepala Sekolah MSQ. Workshop berlangsung pukul 07.00–17.00 WIB dan mempertemukan para pengelola lembaga, guru bahasa Arab, serta praktisi pendidikan Islam dari berbagai daerah.
Kegiatan yang diselenggarakan RUMUZ bersama HSI Boarding School itu mengangkat tema “Transformasi Bahasa Arab: dari Kelas, Bi’ah, hingga Kultur Pembiasaan sebagai Branding Mutu PSB/PPDB”. Berdasarkan rancangan penyelenggara, peserta tidak hanya menerima paparan, tetapi juga mengisi lembar kerja dan menyusun rencana aksi 30 hari yang dapat disesuaikan dengan kondisi lembaga masing-masing.
| “Kegiatan ini sangat positif dan bermanfaat bagi MSQ, khususnya dalam upaya meningkatkan program bahasa Arab di pondok. Materinya membantu kami melihat bahwa penguatan bahasa harus dikerjakan sebagai sistem lembaga, bukan hanya dibebankan kepada guru bahasa Arab.”
— Ustadz Agus Fadilla Sandi, S.H., M.Ag. |
Bahasa Arab sebagai Khidmah dan Amanah Pendidikan
Rangkaian acara dipandu oleh Muhammad Kautsar atau Uki Kautsar sebagai pembawa acara. Dalam sambutannya, Ustadz Dr. Sufyan Baswedan, M.A., mengingatkan bahwa mempelajari bahasa Arab harus dilandasi keikhlasan karena merupakan bagian dari khidmah kepada agama. Menurutnya, mengajarkan bahasa Arab dengan baik juga merupakan amanah atas ilmu yang telah Allah karuniakan.
Keynote speech disampaikan Prof. Dr. Nurtanio Agus Purwanto, M.Pd. Ia menekankan bahwa seorang guru perlu hadir sebagai pemimpin, memiliki kecakapan interpersonal yang memadai, serta menjadi teladan dalam sikap dan perilaku. Pesan tersebut menempatkan keberhasilan program bahasa bukan semata pada metode, tetapi juga pada kualitas pribadi dan kepemimpinan pendidik.
Ubah Mindset: Bahasa Arab Harus Mudah, Hidup, dan Aplikatif
Materi pertama disampaikan Dr. Ridho Abdillah, M.Ed., dengan tema “Membangun Mindset Visioner: Bahasa Arab Mudah, Hidup, dan Aplikatif”. Ia memetakan sejumlah sebab bahasa Arab kerap dianggap sulit, antara lain target awal yang terlalu besar, ketakutan siswa melakukan kesalahan, pembelajaran yang terlalu aman pada teori, serta lingkungan lembaga yang belum mendukung.
Menurut pemaparan tersebut, lembaga perlu menetapkan sasaran bertahap, menghilangkan suasana yang membuat santri takut berbicara, memperbanyak praktik, dan menjadikan bahasa Arab sebagai prioritas bersama. Dengan demikian, bahasa Arab tidak berhenti sebagai mata pelajaran di kelas, melainkan tumbuh menjadi kultur lembaga.
- Target awal disusun realistis dan meningkat secara bertahap.
- Santri diberi ruang untuk mencoba tanpa takut dipermalukan ketika salah.
- Teori dihubungkan langsung dengan praktik komunikasi sehari-hari.
- Seluruh unsur lembaga ikut menopang program, bukan hanya guru bahasa Arab.
- Perkembangan program dipantau melalui indikator yang sederhana dan terukur.
Bi’ah Lughawiyyah Dibangun dari Zona dan Kebiasaan
Pada sesi kedua, Abu Umar Widarmanto, B.A., membahas strategi memperkuat bi’ah lughawiyyah atau lingkungan berbahasa Arab. Ia menjelaskan bahwa lingkungan bahasa tersusun dari ruang, waktu, ungkapan, pelaku, dan aktivitas. Karena itu, bi’ah tidak cukup dibangun melalui aturan tertulis.
Lingkungan bahasa yang efektif memerlukan keteladanan guru, latihan singkat yang dilakukan berulang, suasana yang mendukung, ungkapan yang jelas, koreksi yang mendidik, penghargaan yang membangun, serta pemantauan yang konsisten. Sesi ini juga menekankan pentingnya mengajarkan ungkapan yang langsung dapat digunakan dalam situasi nyata, bukan berhenti pada hafalan kosakata terpisah.
Pondasi pembelajaran dirumuskan melalui lima unsur: people, action, things, places, dan interaction. Dari unsur tersebut, lembaga dapat memilih zona tertentu untuk memulai, menentukan aktivitas yang diulang, menyepakati ungkapan, menjaga waktu pelaksanaan, serta menetapkan indikator yang dapat dipantau.
| “Workshop ini sangat bagus karena kami memperoleh tips yang praktis untuk memulai program bahasa, terutama bagi pondok yang baru menggalakkan penggunaan bahasa Arab dalam keseharian.”
— Ustadz Muhammad Saleh, M.Ag. |

Teknologi AI dan Metode BAPER KELAR
Materi ketiga disampaikan Ahmad Ubaidillah, Lc., mengenai optimalisasi pengajaran bahasa Arab melalui teknologi kecerdasan buatan. Teknologi diarahkan untuk membantu proses pembelajaran, latihan, evaluasi, dokumentasi, dan pengembangan materi, dengan tetap menempatkan guru sebagai pengarah utama.
Sesi penutup bersama Wahab Rajasam, M.Pd., membahas pembangunan kultur bahasa melalui metode “BAPER KELAR”. Akronim tersebut merangkum enam langkah yang mudah diingat dan dapat diterjemahkan menjadi program lembaga.
- BA — Bacaan: memperbanyak kegiatan yang menunjang kemampuan membaca bahasa Arab santri.
- PE — Perdengarkan: menghadirkan program yang memperkuat keterampilan menyimak.
- KE — Keteladanan: membangun komitmen ustadz dan pengurus untuk menggunakan bahasa Arab secara konsisten.
- L — Latih terus-menerus: menyediakan ruang praktik yang berulang dan berjenjang.
- A — Acarakan: mengembangkan kultum, perlombaan, penampilan, atau agenda internal yang menggunakan bahasa Arab.
- R — Reward: memberikan penghargaan, sertifikat, atau hadiah yang mendukung motivasi santri.


Bahan Penguatan Program Bahasa Arab MSQ
Keikutsertaan dua pimpinan MSQ dalam workshop tersebut menunjukkan perhatian lembaga terhadap pengembangan kompetensi SDM dan pembaruan sistem pembelajaran. Materi yang diperoleh menjadi bahan evaluasi untuk melihat kembali target, peran pengurus, pola pembiasaan, dukungan teknologi, serta mekanisme pemantauan program bahasa Arab di lingkungan MSQ.
Langkah penguatan selanjutnya perlu disusun berdasarkan kondisi nyata lembaga, dimulai dari zona dan ungkapan yang terbatas, pembiasaan yang konsisten, keteladanan pengurus, serta evaluasi berkala. Pendekatan bertahap diharapkan dapat membuat bahasa Arab lebih mudah digunakan, tidak menakutkan bagi santri, dan tumbuh sebagai bagian dari budaya pendidikan pesantren.
Melalui peningkatan kapasitas pimpinan dan guru, MSQ terus berupaya menghadirkan pendidikan tahfizh dan diniyah yang dikelola secara profesional, relevan, serta berorientasi pada pembentukan adab, kecakapan, dan kemandirian santri.
Penulis: Tim Media MSQ
Editor: Paisal Firmansyah
Foto: Dokumentasi penyelenggara, dokumentasi internal MSQ