CIBINONG, BOGOR – Ma’had Sabilul Qur’an (MSQ) terus memperkuat pendidikan santri melalui program life skill yang terintegrasi dengan pembinaan Al-Qur’an dan dakwah. Salah satunya adalah Ekstrakurikuler Public Speaking MSQ yang telah berjalan sejak Tahun Akademik 2025/2026 dan kembali dilanjutkan pada 2026/2027.
Program wajib bagi santri SMP dan SMA ini dilaksanakan sebulan sekali setelah salat Jumat selama sekitar satu jam di Masjid MSQ. Seluruh santri mengikuti kegiatan bersama beberapa pengurus MSQ agar keterampilan komunikasi tumbuh sebagai budaya belajar dan dakwah di lingkungan pesantren.

Ilmu Tidak Cukup Dikuasai, tetapi Perlu Disampaikan dengan Baik
Ekskul Public Speaking dirancang agar santri tidak hanya memiliki hafalan dan pengetahuan, tetapi juga mampu mengartikulasikan ilmu secara runtut, jelas, santun, dan mudah dipahami. Keterampilan ini mendukung peran santri kelak sebagai dai, pemimpin, imam, guru ngaji, maupun komunikator yang baik di tengah masyarakat.
Arah pembinaan tersebut selaras dengan kebutuhan dakwah kontemporer. Majelis Ulama Indonesia (MUI), melalui program Dai Champions dan Standardisasi Dai, menekankan pentingnya kemampuan mengartikulasikan ilmu, metode penyampaian yang efektif, etika berdakwah, inovasi metode dakwah, serta kesiapan tampil di media penyiaran dan ruang digital.
| “Santri penting menguasai ilmu public speaking agar ilmu yang dipelajari dapat disampaikan dengan baik dan didakwahkan secara luas.”
Ust. Agus Fadilla Sandi, S.H., M.Ag. |
Lima Sasaran Utama Pembinaan
- Memahami hakikat public speaking dalam perspektif Islam. Santri diarahkan bahwa kemampuan berbicara bukan sekadar tampil menarik, tetapi sarana menyampaikan kebenaran dengan ilmu, adab, dan tanggung jawab.
- Melatih keberanian berbicara di depan publik. Latihan rutin membantu santri mengelola rasa gugup dan membangun kesiapan tampil di hadapan jamaah atau audiens.
- Meningkatkan kemampuan menyusun gagasan. Santri belajar menentukan tujuan, memilih pesan inti, serta menyusun pembukaan, isi, dan penutup secara runtut.
- Membangun rasa percaya diri yang baik. Kepercayaan diri ditumbuhkan melalui persiapan, latihan, evaluasi, dan pengalaman tampil secara berulang.
- Menyiapkan santri menjadi komunikator dakwah. Keterampilan berbicara diarahkan untuk mendukung profil lulusan MSQ: hafizh yang mutqin, berakhlak, mandiri, dan mampu berdakwah.
Program Terstruktur: 20 Persen Teori, 80 Persen Praktik
Pembelajaran dibuat aplikatif dengan komposisi sekitar 20 persen teori dan 80 persen praktik. Pada setiap pertemuan, santri mencatat pokok materi, menyaksikan contoh, lalu bergiliran mempraktikkan keterampilan yang sedang dipelajari. Pembina memberikan evaluasi langsung, sementara teman sebaya dilibatkan melalui peer feedback yang terarah.
Materi dasar yang diberikan mencakup pengertian public speaking, urgensi menguasai keterampilan berbicara, struktur inti materi, serta tips tampil terbaik di hadapan publik. Latihan disesuaikan dengan kebutuhan santri, dari menyampaikan gagasan singkat hingga latihan ceramah dan kultum.

Praktik Nyata melalui Kultum dan Latihan Bergiliran
Keterampilan yang dipelajari tidak berhenti di ruang ekskul. Santri juga mendapatkan ruang praktik melalui program kultum setelah salat dan kesempatan berbicara pada kegiatan internal. Pola ini memberi pengalaman nyata untuk membangun kebiasaan tampil, mengatur durasi, membaca audiens, serta menyampaikan pesan agama secara ringkas dan terarah.
| “Seorang dai harus mampu menyusun materi yang baik dan menyampaikannya dengan cara yang terbaik.”
Ust. Agus Fadilla Sandi, S.H., M.Ag. |

Dibimbing Praktisi Dakwah dan Media
Program ini dibina langsung oleh Ust. Agus Fadilla Sandi, S.H., M.Ag., Pimpinan MSQ Bidang SDM dan Dakwah sekaligus Ketua Yayasan Markaz Studi Al-Qur’an. Ia juga dikenal sebagai Juara I Dai Champions MUI-tvOne dan penceramah Damai Indonesiaku tvOne, serta aktif menjadi narasumber kajian, seminar, pelatihan, dan forum kelembagaan.
Keterlibatan praktisi memberi santri kesempatan belajar bukan hanya dari konsep, tetapi juga dari pengalaman nyata menyiapkan materi, menghadapi audiens, mengelola waktu, dan menyesuaikan penyampaian dengan karakter forum maupun media.
Menguatkan Profil Lulusan dan Kaderisasi Dai Muda
Bagi MSQ, public speaking merupakan bagian dari pendidikan life skill dan kaderisasi dai muda. Program ini melengkapi proses tahfizh, pembinaan ilmu syar’i, akhlak, serta kemandirian yang dijalankan di pesantren.
Melalui latihan yang konsisten, MSQ berharap santri tumbuh bukan hanya sebagai hafizh Al-Qur’an, tetapi juga pribadi yang komunikatif, mampu mengemukakan pendapat dengan adab, siap memimpin, dan mampu menghadirkan dakwah yang relevan bagi masyarakat. Di era media digital, bekal tersebut semakin penting agar ilmu yang dimiliki dapat menjangkau ruang manfaat yang lebih luas.
