Cibinong, Bogor — Mengasuh dan mendidik anak di era modern memerlukan landasan ilmu yang kokoh, bukan sekadar bersandar pada intuisi ataupun kebiasaan turun-temurun. Menjawab tantangan tersebut, Seminar Pendidikan Anak bertajuk “Kupas Tuntas Kaidah & Metode Mendidik Anak dalam Perspektif Islam” sukses diselenggarakan hari ini, Ahad (17/5/2026). Acara yang dihadiri oleh Wali Santri, Masyarakat dan Praktisi Pendidikan ini menghadirkan Ust. Agus Fadilla Sandi, S.H., M.Ag. sebagai pembicara utama.
Dalam pemaparannya, Ust. Agus Fadilla Sandi yang juga dikenal sebagai Pimpinan Ma’had Sabilul Qur’an (MSQ) Bidang SDM dan Dakwah sekaligus 1st Winner Dai Champions MUI tvOne 2025, menegaskan bahwa kekeliruan dalam pola asuh sering kali terjadi akibat orang tua yang mendidik anak hanya berdasarkan ledakan emosi sesaat atau mengadopsi tradisi masa lalu tanpa filter syariat.

“Mendidik anak adalah salah satu bentuk ibadah paling agung sekaligus amanah yang berat. Kewajiban ini tidak cukup ditunaikan hanya dengan modal niat baik. Ia menuntut ilmu pengetahuan yang benar, penguasaan kaidah asasi, serta penerapan metode yang telah dituntunkan dalam syariat Islam,” ujar Ust. Agus Fadilla Sandi di hadapan para peserta.

Lima Karakteristik Ideal Orang Tua Pendidik
Di paruh pertama seminar, materi difokuskan pada pembenahan internal diri orang tua sebelum mampu membenahi anak. Beliau merinci lima pilar karakteristik yang wajib dimiliki oleh setiap pendidik muslim:
-
Keikhlasan: Membersihkan niat semata-mata demi mengharap rida Allah dan menyelamatkan generasi.
-
Ketakwaan: Menjadi benteng moral agar apa yang diucapkan selaras dengan apa yang diperbuat.
-
Ilmu Pengetahuan: Menolak kejutan perubahan zaman dengan terus meng-upgrade wawasan parenting.
-
Kesantunan dan Pemaaf: Menghadapi kesalahan anak dengan kelapangan dada, bukan dengan kekerasan verbal maupun fisik.
-
Rasa Tanggung Jawab: Menyadari penuh bahwa setiap anak adalah titipan yang akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat.

Metode Praktis Tumbuh Kembang: Keteladanan Hingga Pembiasaan
Memasuki sesi inti, seminar membedah metode aplikatif dalam menyalurkan nilai-nilai kebaikan kepada anak. Penekanan utama diletakkan pada metode Uswatun Hasanah (keteladanan nyata). Menurut pemateri, anak adalah peniru ulung; mereka tidak mendengar apa yang kita instruksikan, melainkan merekam apa yang kita lakukan sehari-hari.
Selain keteladanan, dibahas pula urgensi pemanfaatan fase usia anak. Pada fase sebelum tamyiz, fokus berada pada penanaman rasa aman dan kasih sayang penuh. Memasuki fase tamyiz, anak mulai siap dibentuk melalui instruksi terstruktur, pembiasaan ibadah harian seperti salat, hingga metode nasihat yang menyentuh hati melalui dialog interaktif, kisah-kisah penuh hikmah, dan selingan candaan yang proporsional.
Di penghujung materi, Ust. Agus juga mengingatkan tiga poin krusial akuntabilitas orang tua: memberikan hak anak secara proporsional, hadir secara utuh dalam membersamai perkembangan anak, serta mencurahkan perhatian penuh yang mana penegakan disiplin atau hukuman hanyalah alternatif terakhir yang bersifat edukatif, bukan pelampiasan amarah.
Acara yang berlangsung interaktif ini diakhiri dengan sesi tanya jawab yang dinamis, di mana para orang tua aktif berkonsultasi mengenai problematika anak kontemporer. Melalui seminar ini, diharapkan para peserta pulang dengan paradigma baru: bahwa belajar menjadi orang tua adalah proses seumur hidup demi mencetak generasi masa depan yang saleh, bertakwa, dan berakhlak mulia.
