Ma'had Sabilul Qur'an

Metode Murojaah Terbaik untuk Hafalan Al-Qur’an – Panduan Praktis & Efektif

Metode Murojaah Terbaik

Pengertian Metode Muraja’ah : Metode Muraja’ah adalah suatu cara atau strategi dalam muraja’ah (mengulang kembali hafalan Al-Qur’an) agar tetap kuat, terjaga, dan tidak mudah lupa. Kata muraja’ah (مُرَاجَعَة) berasal dari bahasa Arab yang berarti mengulang atau meninjau kembali. Muraja’ah juga bisa disebut dengan metode pengulangan periodik yang artinya berfokus pada pengulangan bacaan atau hafalan secara berkala, hal ini melibatkan bacaan yang berulang kali pada ayat yang sama dalam jangka waktu tertentu, karena pada dasarnya tidak ada hafalan tanpa muraja’ah.

Santri Tahfidz Ma’had Sabilul Qur’an sedang murojaah Al-Qur’an di kelas
Santri Tahfidz Ma’had Sabilul Qur’an sedang murojaah Al-Qur’an di kelas

Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah Hadits

عن أَبي موسى – رضي الله عنه -، عن النبيِّ – صلى الله عليه وسلم – ، قَالَ : (( تعاهدوا هَذَا القُرْآنَ ، فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَهُوَ أشَدُّ تَفَلُّتاً مِنَ الإبلِ فِي عُقُلِهَا )) متفقٌ عَلَيْهِ .

 

Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Hafalkanlah (dan rutinkanlah) membaca Al-Qur’an. Demi yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, Al-Qur’an itu lebih mudah lepas daripada unta yang lepas dari ikatannya.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, 9:79 dan Muslim, no. 791]

Maka dengan adanya metode muraja’ah akan menjaga hafalan ataupun ingatan. Dengan seringnya mengulang-ulang (muraja’ah) maka akan selalu mengingat bacaan dan tulisan dengan baik.

Formulir Program Orang Tua Asuh Santri Dhuafa

Baca Juga : Tahfidz : Pengertian dan Sejarah Singkat Perkembangannya

Dalam konteks tahfidz, metode muraja’ah merupakan pendekatan sistematis yang digunakan oleh santri atau penghafal Al-Qur’an untuk:

  • Menjaga hafalan lama agar tidak hilang.
  • Menguatkan bacaan dan memperbaiki kesalahan.
  • Membentuk konsistensi dalam membaca Al-Qur’an.

Baca Juga : Apa Itu Ziyadah dalam Hafalan Al-Qur’an? Ziyadah adalah

Tidak ada metode muraja’ah tertentu yang terbaik, murojaah yang terbaik terletak pada konsistensi, kedisiplinan, dan cara seseorang menggabungkan macam-macam metode muraja’ah sesuai kebutuhan. Apapun metode muraja’ah yang dipakai ada berbagai macam, diantaranya ialah:

  • Metode Muraja’ah Fardy
  • Metode Muraja’ah Ma’al Musyrif
  • Metode Muraja’ah Ma’az Zamil
  • Metode Muraja’ah Rabt
  • Metode Muraja’ah dalam Shalat
  • Metode Muraja’ah Kitabah
  • Metode Muraja’ah bil Istima

Macam Macam Metode Murojaah Hafalan Al Quran

1. Metode Murojaah Fardy

Muraja’ah Fardy adalah kegiatan mengulang hafalan Al-Qur’an secara mandiri, dilakukan sendiri oleh seorang santri tanpa harus menunggu musyrif. Tujuannya  adalah untuk menjaga hafalannya agar tetap kuat, lancar, dan tidak mudah lupa. Kegiatan ini juga melatih disiplin, kesabaran, kesadaran, dan ketekunan seorang santri karena keberhasilan hafalan sangat bergantung pada kebiasaan rutin yang dibangun sendiri.

Kelebihan Murojaah Fardy
  1. Fleksibel – Bisa diulang kapan saja sesuai waktu dan kondisi
  2. Mendorong kemandirian – Hafalan menjadi tanggung jawab pribadi
  3. Hafalan lebih melekat – Pengulangan mandiri membuat ayat lebih nempel
  4. Ritme muraja’ah sesuai kapasitas diri sendiri – Bisa disesuaikan dengan fokus dan energi harian
Kekurangan Murojaah Fardy
  1. Kurang cocok untuk pemula dan anak-anak – Pemula dan anak-anak belum terbiasa dengan disiplin dan kemungkinan sulit untuk memulai sendiri
  2. Perlu motivasi tinggi dan kesadaran tinngi – Motivasi dan kesadaran harus tinggi karena semua tanggung jawab muraja’ah ada di tangan sendiri
  3. Risiko tertunda – Tanpa konsistensi, muraja’ah bisa mudah terlupakan dan akan menunda hal-hal yang lain
  4. Bimbingan tambahan – Perlu adanya bimbingan tambahan agar mudah mendeteksi kesalahan dalam bacaan ataupun hafalan
Tips dan Panduan Murojaah Fardy
  1. Buat jadwal rutin dengan menentukan waktu tetap setiap hari, agar muraja’ah menjadi kebiasaan yang berkesinambungan
  2. Sesuaikan muraja’ah dengan shalat lima waktu, karena hafalan akan lebih mudah diingat apabila dilakukan setelah shalat
  3. Mengatur porsi muraja‘ah sesuai hafalan. Apabila mempunyai hafalan 1-10 juz, maka jumlah yang harus di murojaah adalah 1 juz. Apabila mempunyai hafalan 11-20 juz, maka jumlah yang harus di muraja‘ah adalah 2 juz. Apabila mempunyai hafalan 21-30 juz, maka jumlah yang harus di muraja‘ah adalah 3 juz.
  4. Muraja‘ah dengan tertib dengan memuraja‘ah sesuai urutan, agar lebih mudah menentukan juz yang lancar ataupun tidak lancar.
  5. Jika hafalan yang belum lancar, maka jangan dilewatkan. Lancarkan perhalaman, dan jangan berpindah halaman sebelum halaman yang sedang dilancarkan bisa dibaca bil ghaib (tidak melihat) tanpa ada melihat sekalipun.
  6. Murojaah fardy tidak disarankan untuk anak-anak usia SD dan cocok untuk sebagian anak SMP jika kesadaran muraja‘ah sudah tumbuh dengan baik.

2. Metode Murojaah maal Musyrif

Muraja’ah Maal Musyrif adalah kegiatan mengulang hafalan dengan cara menyetorkannya kepada musyrif. Caranya ialah seorang santri menyetorkan hafalan lamanya secara langsung dihadapan musyrif nya. Dalam proses ini, guru mendengarkan bacaan santri, lalu mengoreksi jika ada kesalahan pada tajwid ataupun hafalannya. Sehingga yang terjaga pada santri tidak hanya hafalannya, akan tetapi bacaannya juga terjaga sesuai dengan kaidah tajwid yang benar.

Kegiatan setoran hafalan santri Ma’had Sabilul Qur’an sebagai bagian dari pembinaan tahfidz

Metode ini termasuk metode talaqqi yang telah diterapkan sejak zaman Rasulullah ﷺ. Rasulullah melakukan metode talaqqi dengan cara membacakan ayat-ayat Al-Qur’an kepada para sahabat, kemudian para sahabat, mendengarkan, menirukan, dan menghafalnya. Tradisi mulia ini diwariskan hingga hari ini sebagai bukti keaslian Al-Qur’an yang terjaga dari Allah. Maka muraja’ah maal musyrif bukan sekedar metode dalam memuraja’ah hafalan, melainkan bagian dari rantai emas yang menyambungkan kita dengan cara Nabi ﷺ menjaga Al-Qur’an.

Kelebihan Murojaah maal Musyrif
  1. Membantu santri yang belum menguasai tajwid agar membaca dan menghafal sesuai kaidah yang benar
  2. Cocok diterapkan sejak usia dini, karena anak langsung terbiasa membaca dengan tartil
  3. Menjadikan santri lebih memahami tajwid secara praktis saat mengulang hafalan
  4. Melatih kesiapan untuk bisa melancarkan hafalannya secara mandiri dan menyetorkannya dalam keadaan yang lancar.
  5. Memberikan dorongan motivasi kepada santri yang biasanya kurang semangat dalam murojaah
  6. Bisa diterapkan untuk semua jenjang usia, sehingga kualitas bacaan dan hafalan bisa meningkat baik.
Kekurangan Murojaah maal Musyrif
  1. Santri perlu memiliki kesiapan hafalan yang cukup, sehingga ketika disetorkan lancar.
  2. Beberapa santri terkadang merasa cepat bosan dikarenakan proses yang membutuhkan banyak waktu.
  3. Kurangnya kedisiplinan dari santri bisa membuat murojaah tidak berjalan lancar maksimal
  4. Membutuhkan kedisiplinan dua arah, baik dari musyrif maupun dari santri nya.
  5. Waktu muraja’ah kadang kurang fleksibel, dikarenakan jadwal musyrif dan jadwal santri yang tidak selaras
Tips dan Panduan Murojaah maal Musyrif
  1. Menyetorkan muraja’ah Al-Qur’an dengan bacaan tahqiq (membaca dengan tempo yang pelan), jelas, dan sesuai kaidah tajwid.
  2. Musyrif halaqah memberikan tanda pada mushaf santri menggunakan pensil jika ditemukan kesalahan. Tanda tersebut bisa berupa titik, lingkaran, atau simbol lain sebagai penanda kesalahan.
  3. Prioritaskan setoran hafalan yang kurang lancar agar segera diperbaiki, adapun hafalan yang sudah lancar bisa dimuraja’ah dengan metode yang lain.

3. Metode Murojaah Ma’az Zamil

Muraja’ah Ma’az Zamil adalah metode mengulang hafalan Al-Qur’an dengan cara berpasangan. Dua orang santri saling menyimak bacaan satu sama lain, sehingga keduanya bisa saling mengoreksi apabila ada kesalahan dalam tajwid, makhraj, atau urutan ayat. Metode ini sangat bermanfaat untuk menumbuhkan kebersamaan, tanggung jawab, dan semngat belajar Bersama.

Dua santri saling menyimak dan mengoreksi hafalan Al-Qur’an dengan metode murojaah berpasangan di Ma’had Sabilul Qur’an

Kelebihan Murojaah Ma’az Zamil
  1. Apabila didapati ada kesalahan makhraj, panjang pendek, atau lupa ayat dapat langsung dikoreksi oleh pasangannya tanpa menunggu guru yang membenarkan.
  2. Melatih konsentrasi dua arah, seorang penyimak bukan hanya membaca, tapi juga menyimak dengan teliti bacaan pasangan sehingga otak terlatih fokus.
  3. Membangun ukhuwah, kerja sama untuk saling mengingatkan dapat menumbuhkan rasa persaudaraan diantara sesama penghafal.
  4. Muraja’ah menjadi lebih menyenangkan karena suasananya tidak monoton, sehingga mengurangi kejenuhan yang biasanya muncul saat melakukannya sendirian.
  5. Efektif untuk menguatkan hafalan lama, karena ada pengulangan dua arah (membaca dan menyimak), hafalan yang sudah pernah disetor jadi lebih kokoh)
Kekurangan Murojaah Ma’az Zamil
  1. Tergantung keseriusan pasangan dalam menyimak, jika salah satu kurang disiplin atau bercanda, muraja’ah tidak berjalan optimal.
  2. Idealnya, setiap pasangan memiliki level hafalan yang seimbang. Jika terlalu jauh perbedaannya, salah satu bisa merasa minder, sedangkan yang lain mungkin cepat bosan.
  3. Rasa malu atau sungkan, ketika sering salah, sebagian santri bisa kehilangan kepercayaan diri di hadapan temannya.
  4. Manajemen waktu sulit seimbang, pasangan yang bacaannya lambat atau sering berhenti bisa memakan waktu lebih lama dibandingkan yang lain
  5. Kurang cocok untuk hafalan baru karena metode muraja’ah ini lebih efektif sebagai penguatan, sedangkan untuk setoran hafalan baru biasanya butuh bimbingan langsung dari guru/ustadz
Tips dan Panduan Murojaah Ma’az Zamil
  1. Cari pasangan dengan hafalan yang seimbang agar muraja’ah lebih efektif
  2. Tentukan jadwal dan target yang jelas, misalnya halaman atau juz yang akan dimuraja’ah
  3. Lakukan secara bergantian, satu membaca dan satu menyimak, lalu bertukar peran
  4. Tandai atau catat kesalahan bacaan untuk diperbaiki setelah selesai
  5. Berikan koreksi dengan lembut dan penuh adab, tanpa menjatuhkan pasangan
  6. Jaga fokus dan kesungguhan, hindari bercanda berlebihan supaya muraja’ah maksimal

4. Metode Murojaah Rabt

Muraja’ah Rabt adalah metode cara mengulang hafalan dengan cara menggabungkan semua ayat yang sudah dihafal dihari hari kemarin dan digabung dengan hafalan baru yang akan disetorkan dihari ini. Misalnya, santri telah menyetorkan 1 halaman dihari kemarin, kemudian ia ingin menyetorkan 1 halaman dihari ini, maka total yang ia setorkan adalah 1 lembar.

Kelebihan Murojaah Rabt
  1. Membangun ingatan hafalan yang kokoh, metode ini memastikan hafalan lama dengan hafalan baru terikat dengan baik, sehingga membentuk satu kesatuan yang utuh.
  2. Meningkatkan kelancaran dan kepercayaan diri, metode ini melatih untuk membaca hafalan lama dan baru secara lancar tanpa jeda. Ketika membaca hafalan lama dan hafalan baru dalam keadaan yang lancar, maka rasa percaya diri akan jauh lebih tinggi jika hafalan tersebut ingin dibaca ketika menjadi imam.
  3. Review otomatis yang konsisten, setiap kali akan menambah hafalan baru, diwajibkan untuk mengulang seluruh hafalan yang sudah ada dengan batas minimal 1-2 halaman
  4. Menghemat waktu muraja’ah di masa depan, meski terasa berat diawal, hafalan yang tersambung kokoh ini justru membutuhkan waktu review yang jauh lebih singkat di masa depan, sehingga menghemat tenaga dan waktu dalam jangka panjang.
  5. Mempermudah mendeteksi kelemahan hafalan dengan presisi dan dapat memperbaikinya secepat mungkin. Dengan mengetahui persis di titik mana hafalan lemah atau tidak lancar, hal ini memudahkan perbaikan yang terarah.
Kekurangan Murojaah Rabt
  1. Memakan waktu lebih banyak, hal ini dikarenakan menggabungkan hafalan yang telah dihafal sebelumnya dengan hafalan baru.
  2. Berisiko menunda atau menggagalkan setoran hafalan baru, karena proses yang dilalui panjang dan keterbatasan waktu, hal ini dapat menyebabkan fokus pada pengulangan hafalan lama saja dan tidak sempat menyetorkan hafalan baru.
  3. Menimbulkan beban mental, tekanan harus melancarkan hafalan lama dan menambah hafalan baru dapat menimbulkan stres, terutama jika hafalan lama sedang tidak stabil.
  4. Kurang fleksibel untuk kondisi tertentu, terlebih untuk disetorkan ke musyrif. Metode ini terasa berat jika kondisi tidak mendukung seperti badan lelah atau waktu mepet, memaksakan muraja’ah rabt justru memberi risiko jika melihat performa hafalan yang tidak maksimal.
Tips dan Panduan Murojaah Rabt
  1. Persiapkan dengan matang sebelum disetorkan. Periksa kembali untuk mengidentifikasi titik yang yang tersendat atau kurang lancar, dengan begitu kesalahan bisa diperbaiki sebelum disetorkan ke musyrif
  2. Fokus pada kualitas bukan kecepatan, prioritaskan kelancaran dan ketepatan bukan cepat selesai. Bacalah dengan tempo tahqiq (baca dengan lambat) dan tartil.
  3. Konsistensi dalam memuraja’ah, lebih baik menggunakan waktu yang sedikit tapi konsisten daripada menggunakan waktu yang banyak tapi tidak konsisten.

5. Metode Murojaah Dalam Shalat

Muraja’ah dalam Shalat adalah metode Muraja’ah yang dilakukan dalam shalat, yaitu dengan cara mengulang hafalan dalam shalat sunnah ataupun shalat wajib, ketika shalat sendiri ataupun ketika menjadi imam.

Amalan ini memiliki dasar dari sunnah Rasulullah ﷺ dan para sahabat. Hudzaifah bin yaman ra. Meriwayatkan, bahwa suatu malam beliau pernah shalat Bersama Rasulullah ﷺ. Saat itu, Nabi ﷺ membaca surat Al-Baqarah lalu surat An-Nisa, kemudian Ali Imran dalam satu rakat. Bacaan beliau perlahan, penuh tadabbur – setiap melewati ayat perlindungan beliau memohon perlindungan. (HR. Muslim)

Santri sedang murojaah hafalan Al-Qur’an dengan membacanya dalam shalat, menjaga hafalan sekaligus menambah kekhusyukan ibadah.

Kebiasaan ini juga diteruskan oleh para sahabat. Umar bin Khattab ra., misalnya dalam shalat Subuh, ia dikenal sering membaca surat panjang sebagai bagian dari muraja’ah hafalannya. Hal ini menunjukkan bahwa membaca hafalan dalam shalat buka sekadar menjaga hafalan agar tetap hidup, tetapi juga sarana tadabbur untuk semakin mendekatkan hati kepada Allah.

Kelebihan Murojaah Dalam Shalat
  1. Hafalan semakin kuat karena terus diulang dalam ibadah yang wajib maupun sunnah.
  2. Membawa kekhusyu’an shalat, sebab ayat yang dibaca berasal dari hafalan sendiri.
  3. Tidak memerlukan waktu tambahan, cukup memanfaatkan shalat yang sudah menjadi rutinitas harian.
  4. Melatih kelancaran hafalan dalam suasana tenang dan penuh adab.
  5. Meneladani Rasulullah ﷺ dan para sahabat dalam memanjangkan bacaan shalat dengan Al-Qur’an.
Kekurangan Murojaah Dalam Shalat
  1. Shalat dapat terganggu diakibatkan hafalan yang tidak lancar, sehingga shalat menjadi tidak khusyu‘.
  2. Kurang efektif untuk hafalan baru, lebih sesuai untuk ayat-ayat yang sudah di muraja’ah sebelumnya. Hal ini mencegah ketidak khusyu’an dalam shalat yang diakibatkan ketidak lancaran atau terbatah-batah dalam membacanya.
  3. Ada kecenderungan membaca surat pendek saja, sehingga hafalan lainnya kurang diperhatikan
Tips dan Panduan Murojaah Dalam Shalat
  1. Pastikan hafalan yang dibaca untuk muraja’ah dalam shalat adalah hafalan yang sudah sangat lancar. Sebab, muraja’ah dalam shalat tidak hanya membutuhkan kesiapan hafalan, tetapi juga kesiapan mental.
  2. Disarankan ada makmum yang memegang mushaf dalam shalat, karena apabila terjadi kesalahan pada saat imam dapat langsung dikoreksi oleh makmum.
  3. Gunakan metode muraja’ah ini pada saat waktu-waktu luang seperti shalat sunnah, shalat tahajjud, shalat dhuha, dan shalat rawatib

6. Metode Murojaah Kitabah

Muraja’ah Kitabah adalah metode yang dilakukan dengan menulis ayat yang dihafalkannya atau yang dimuraja’ahnya pada sebuah kertas.

Kelebihan Murojaah Kitabah
  1. Memperkuat memori jangka panjang, murja’ah hafalan dengan menulis dapat mengaktifkan memori motorik dan visual. Hal tersebut dapat membantu transfer informasi dari ingatan jangka pendek ke ingatan jangan panjang, sehingga ingatan menjadi jauh lebih kuat.
  2. Meningkatkan kemampuan imla, metode ini melatih keterampilan imla atau menulis ayat-ayat Al-Qur’an dengan akurat, sehingga hasil tulisan juga semakin baik.
  3. Meningkatkan kualitas hafalan, metode ini dapat meningkatkan kualitas hafalan agar tetap akurat sesuai kaidah penulisan, karena setiap huruf dan posisi di mushaf ikut direkam dalam memori otak.
  4. Fleksibilitas waktu, hal ini menjadikan seorang penghafal lebih mudah dalam mengatur waktu dalam memuroja’ah hafalannya dikarenakan tidak terpakut waktu pada orang yang ingin menyimak.
Kekurangan Murojaah Kitabah
  1. Keterbatasan waktu karena muraja’ah dengan menulis membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan dengan membacanya, sehingga tidak efisien untuk mengulang hafalan dalam jumlah yang banyak, apalagi untuk menjaga kelancaran membaca.
  2. Membuat fisik lebih cepat letih dikarenakan aktivitas menulis yang menguras energi pikiran dan juga motorik kasar. Hal ini juga bisa mengganggu konsentrasi dan motivasi untuk melanjutkan muraja’ah.
  3. Tidak cocok untuk seseorang yang memiliki hafalan banyak karena keterbatasan kecepatan dalam penulisan, hal ini akan menghambat proses muraja’ah dan membutuhkan waktu yang sangat panjang.
  4. Kemungkinan konsistensi yang minim, dikarenakan membutuhkan waktu yang lama dalam penulisan.
Tips dan Panduan Murojaah Kitabah
  1. Menulis pada buku khusus muraja’ah, agar mudah dalam mengevaluasi dan menentukan juz yang sudah di muraja’ah.
  2. Utamakan muraja’ah hafalan yang baru untuk di tulis, hal ini berguna untuk mengikat hafalan dan mempertahankan hafalan dalam jangka panjang.
  3. Konsistensi dalam muraja’ah untuk memberikan hasil yang terbaik. Karena muraja’ah dalam jumlah yang sedikit tapi konsisten, dapat memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan muraja’ah dalam jumlah yang banyak tapi tidak konsisten.

7. Metode Murojaah bil Istima

Muraja’ah bil Istima’ adalah metode mengulang hafalan Al-Qur’an dengan cara menyimak, mengikuti dalam hati, dan membandingkan dengan hafalan yang sudah ada di dalam ingatan pendengar. Tujuannya adalah untuk melibatkan pendengaran secara aktif dan memperkuat memori, metode ini biasa digunakan dengan cara mendengar murattal atau menyimak bacaan orang.

Kelebihan Murojaah bil Istima
  1. Dapat dilakukan dengan waktu yang fleksibel dan tidak bergantung pada tempat, seseorang dapat muraja’ah sambil mendengar dalam kegiatan apapun dan dimanapun.
  2. Meneladani kisah Nabi Muhammad ﷺ, dahulu para sahabat saling memperdengarkan hafalan diantara mereka, seperti kisah Nabi ﷺ yang mendengarkan bacaan Ibnu Mas’ud.
  3. Menumbuhkan konsentrasi tinggi, metode ini melatih kesabaran dan fokus karena seseorang dituntut mendengarkan dengan teliti sehingga konsentrasi ini membantu seseorang dalam menjaga hafalannya.
Kekurangan Murojaah bil Istima
  1. Hafalan menjadi pasif, jika memuraja’ah hanya dengan mendengar tanpa mengulang atau membacanya kembali. Seseorang merasa hafal saat mendengar, tapi ketika diminta untuk baca belum tentu ia bisa membacanya sendiri.
  2. Tidak semua santri mampu berkonsentrasi penuh pada saat mendengar bacaan dalam waktu yang lama. Walaupun telinganya mendengar, akan tetapi pikiran melayang sehingga muraja’ah tidak maksimal.
  3. Kurang efektif untuk menguatkan detail ayat, metode ini cocok untuk melancarkan hafalan secara global saja, tetapi tidak efektif untuk melancarkan ayat-ayat yang mutasyabihat (mirip).
  4. Ketergantungan pada pihak kedua, seseorang dapat muraja’ah Ketika ada orang yang ingin menyimakkan kepadanya atau ketika ada murattal.
Tips dan Panduan Murojaah bil Istima
  1. Mendengar dengan mengikutinya dalam hati dan lisan, hal ini akan membuat hafalan lebih menempel karena melibatkan pendengaran dan lisan sekaligus.
  2. Hindari mendengar bacaan yang masih banyak kesalahan, agar hafalan tidak ikut salah.
  3. Kombinasikan dengan metode yang lain, setelah muraja’ah dengan mendengar, lebih baik dikombinasikan dengan murjaa’ah fardhy sambil melihat qur’an sesekali.

Penutup

Muraja’ah bukan sekedar pengulangan, melainkan ikhtiar menjaga amanah Al-Qur’an. Pada hakikatnya tidak ada metode terbaik dalam memuraja’ah hafalan, akan tetapi dengan mengkombinasikan dan memanfaatkan berbagai metode, seorang penghafal qur’an dapat memperkokoh hafalan, memperindah bacaan, dan menjaga kedekatannya dengan Kalamullah. Semoga setiap usaha kecil dalam muraja’ah menjadi langkah

Ditulis Oleh : Ust Yaseer Ulwan, S.Pd

Koor Ketahfidzan SMPI – SMAI Ma’had Sabilul Qur’an