Ma'had Sabilul Qur'an

Anak Cinta Al Qur’an: Rahasia Sukses Mendidik Anak dalam Perspektif Parenting Islami

Parenting Islami adalah kunci melahirkan Anak Cinta Al-Qur’an.

Mendidik anak menjadi generasi Qur’ani merupakan salah satu tanggung jawab utama orang tua. Syekh Abdullah Nasih Ulwan menjelaskan salah satu kaedah dalam mendidik anak di dalam Islam adalah dengan mengikatkan mereka dengan Al-Qur’an. Ketahuilah, bahwa generasi akhir umat ini tidak akan baik kecuali mengikuti kebaikan para generasi muslim terdahulu. Jika generasi muslim terdahulu dapat berjaya dengan kuatnya ikatan mereka dengan Al-Qur’an, maka generasi saat ini pun dapat berjaya selama umat Islam kini mengikat generasinya dengan Al-Qur’an, baik secara pemahaman, hafalan, amalan, dan juga akhlak keseharian.

Kiat Islami Mendidik Anak Agar Dekat dengan Al-Qur’a

Ibn Khaldun berpendapat bahwa mempelajari Al-Qur’an adalah fondasi dalam pendidikan dan pengajaran. Dalam hal ini, ia berkata:

اِعْلَمْ أَنَّ تَعْلِيمَ الوِلْدَانِ لِلْقُرْآنِ شِعَارٌ مِنْ شَعَائِرِ الدِّينِ، أَخَذَ بِهِ أَهْلُ المِلَّةِ، وَدَرَجُوا عَلَيْهِ فِي جَمِيعِ أَمْصَارِهِمْ، كَمَا يَسْبِقُ فِيهِ إِلَى القُلُوبِ مِنْ رُسُوخِ الإِيمَانِ وَعَقَائِدِهِ مِنْ آيَاتِ القُرْآنِ وَبَعْضِ مُتُونِ الأَحَادِيثِ، وَصَارَ القُرْآنُ أَصْلَ التَّعْلِيمِ الَّذِي يُبْنَى عَلَيْهِ مَا يُحَصَّلُ بَعْدَ مِنَ

“Ketahuilah bahwa mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak adalah salah satu syiar agama yang dianut oleh umat Islam. Mereka berpegang teguh pada hal itu di seluruh wilayah mereka, karena Al-Qur’an akan terlebih dahulu mengakar di hati mereka dengan kokohnya keimanan dan akidah yang terkandung dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan sebagian teks hadis. Al-Qur’an telah menjadi dasar pendidikan yang menjadi fondasi bagi kemampuan-kemampuan lain yang diperoleh setelahnya.”

Formulir Program Orang Tua Asuh Santri Dhuafa

Baca Juga : Seminar Pendidikan Anak MSQ: Tanggung Jawab Pendidikan Iman, Raup Antusias Wali Santri dan Masyarakat Bogor

Hendaknya Al-Qur’an menjadi pendidikan awal yang diupayakan orang tua untuk anaknya sejak dini. Sekaitan hal itu, kita dapat mengambil ibrah dari kisah Nabi Yahya عَلَيْهِ ٱلسَّلَامُ yang sejak dini kurang lebih berusia tiga tahun telah mendapatkan amanat untuk mempelajari Kitabullah. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman:

يَا يَحْيَىٰ خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ ۖ وَآتَيْنَاهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا

“Wahai Yahya! Ambillah Kitab itu dengan sungguh-sungguh. Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak.” (Q.S. Maryam [19]: 12)

Seperti Yahya ‘alaihissalam yang diberi hikmah di masa kanak-kanak, begitu pula anak-anak kita: butuh bimbingan agar hidupnya berporos pada Al-Qur’an

Dalam Tafsir Ibn Katsir disebutkan bahwa Abdullah bin Mubarak berkata: Ma’mar berkata: Anak-anak berkata kepada Yahya bin Zakariya عَلَيْهِ ٱلسَّلَامُ: ‘Ayo, bermainlah bersama kami.’ Ia (Yahya) menjawab: ‘Aku tidak diciptakan untuk bermain.’ Maka, karena itu, Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menurunkan wahyu: (Dan Kami berikan kepadanya hikmah (kebijaksanaan) selagi ia masih kanak-kanak).

Baca Juga : Manfaat Menghafal Al Quran: Kenapa Banyak Orang Merasa Hidupnya Lebih Bermakna?

Oleh karenanya, peran orang tua sangat penting dalam menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an sejak dini, agar anak tumbuh dengan fondasi iman dan akidah yang kuat. Melalui tulisan ini diharapkan para orang tua menyadari pentingnya peran mereka dalam pendidikan Al-Qur’an bagi anak, sekaligus memberikan panduan praktis untuk menumbuhkan kecintaan anak terhadap kitab suci ini. Pun mengajak orang tua untuk membangun lingkungan pendidikan berbasis Al-Qur’an di rumah maupun di sekolah, sehingga terlahir generasi Qur’ani.

Tips Parenting Islami untuk Menumbuhkan Anak Cinta Al Qur’an

1. Fase Awal Kehidupan Anak: Membangun Fondasi anak Cinta Al Qur’an

Fase awal kehidupan, yaitu pada usia 0-2 tahun, merupakan periode yang sangat penting dalam membentuk dasar kecintaan anak terhadap Al-Qur’an. Sedari awal, orang tua sangat dianjurkan untuk memperbanyak doa kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى agar diberikan keturunan yang saleh/ah dan menjadi ahlul Qur’an. Selama kehamilan, mendengarkan Al-Qur’an dapat memberikan ketenangan bagi ibu dan mempengaruhi kondisi psikologis yang baik bagi janin. Begitu bayi lahir, perkenalkanlah Al-Qur’an dengan memperdengarkannya saat anak tengah menyusui, karena dapat membantu anak mengenal kosakata Al-Qur’an yang kelak mempermudah proses hafalan Al-Qur’an di masa depan.

2. Fase usia dini 

Fase usia dini (2-6 tahun); mendidik keimanan anak dengan memperkenalkan mereka pada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dan kitab-Nya, terutama Al-Qur’an, ini menjadi fondasi penting dalam membentuk kecintaan mereka terhadap agama. Orang tua dapat melakukannya dengan berbagai cara, seperti membacakan Al-Qur’an di depan anak agar naluri meniru anak terdorong untuk tertarik membaca. Memberikan mushaf pribadi agar anak cenderung merasa lebih dekat dan memiliki ikatan emosional dengan apa yang menjadi miliknya. Selain itu, memberikan apresiasi positif atas pencapaian anak dalam membaca atau menghafal Al-Qur’an supaya mereka termotivasi untuk terus belajar. Tak kalah pentingnya, menceritakan kisah-kisah menarik dari Al-Qur’an membantu anak lebih mudah memahami dan meresapi pesan-pesan yang terkandung di dalamnya, serta memperkuat kecintaan mereka pada kitab suci sejak dini.

3. Fase mumayyiz hingga mukallaf (7 tahun dan seterusnya)

Fase mumayyiz hingga mukallaf (7 tahun dan seterusnya); orang tua dapat melatih daya ingat anak dengan mulai menghafal Al-Qur’an, bertanya lanjutan ayat atau meminta anak mencari kata tertentu dalam Al-Qur’an dalam rangka memperkuat daya ingat mereka. Lalu, orang tua juga dapat melatih kemampuan intelektual anak dengan memberikan kuis sederhana dari surat-surat dalam Al-Qur’an, yang dapat membantu anak dalam menghafal dan memahami dengan lebih baik. Selain itu, menghubungkan apa yang ada di lingkungan sekitar dengan ayat-ayat Al-Qur’an, seperti membahas tentang hujan, siang dan malam yang termaktub dalam Al-Qur’an, akan membuat anak lebih mudah memahami pesan-pesan Al-Qur’an. Pun menjadikan Al-Qur’an sebagai teman anak di setiap tempat, seperti membiasakan anak membawa mushaf saat bepergian atau memperdengarkan tilawah Al-Qur’an secara rutin, akan mempererat hubungan anak dengan Al-Qur’an.

4. Sarana pendukung lainnya

Sarana pendukung lainnya yang dapat membantu menumbuhkan kecintaan anak terhadap Al-Qur’an dapat berupa penyediaan buku bertemakan Al-Qur’an yang menarik bagi anak, serta memanfaatkan media interaktif seperti aplikasi atau program komputer yang mendukung hafalan Al-Qur’an. Orang tua juga dapat merekam bacaan anak untuk memotivasi mereka dalam memperbaiki bacaan dan hafalan. Memberikan kesempatan bagi anak untuk tampil di sekolah atau acara keagamaan, mendekatkan anak dengan ulama dan ahli Al-Qur’an, serta melibatkan mereka dalam halaqah Al-Qur’an, baik di masjid, sekolah, atau pondok pesantren tahfizh yang akan semakin memperkuat semangat mereka dalam belajar dan memahami Al-Qur’an. Semua langkah ini akan berkontribusi dalam menciptakan lingkungan yang mendukung proses pendidikan Al-Qur’an bagi anak.

Lingkungan Qur’ani di Rumah: Kunci Menumbuhkan Anak Cinta Al-Qur’an

Dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

لا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقابِرَ، إنَّ الشَّيْطانَ يَنْفِرُ مِنَ البَيْتِ الذي تُقْرَأُ فيه سُورَةُ البَقَرَةِ

“Jangan jadikan rumah kalian sebagai kuburan, karena setan lari dari rumah yang dibacakan Surah Al-Baqarah di dalamnya.” (H.R. Muslim No. 780). Rumah-rumah kaum muslimin seharusnya diperkuat dari gangguan setan dan dipenuhi dengan cahaya serta keberkahan, salah satu caranya adalah dengan membaca Al-Qur’an. Membaca Al-Qur’an di dalam rumah mendatangkan kebaikan dan keberkahan bagi tempat tersebut, karena Al-Qur’an adalah tali Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى yang terhubung, di dalamnya terdapat ketenangan jiwa, serta mengusir setan dari rumah-rumah yang dibacakan di dalamnya, terutama Surah Al-Baqarah.

Membangun lingkungan Qur’ani di rumah dimulai dari orang tua yang hidup bersama Al-Qur’an, bukan sekadar meletakkan mushaf di rak

Membentuk lingkungan Qur’ani di rumah memerlukan konsistensi, kerjasama antara ayah dan ibu, serta suasana yang menyenangkan. Orang tua harus menjadi teladan dengan membaca dan mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu cara efektif yang dapat dilakukan adalah mengadakan halaqah Al-Qur’an keluarga. Selain itu, berdialog tentang nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan, seperti sabar saat sakit, dan lain sebagainya. Begitupun komitmen keluarga dalam memuliakan Al-Qur’an, seperti menempatkan mushaf di tempat yang baik dan mengamalkan isinya secara bertahap, ini semua akan memperkuat lingkungan Qur’ani di rumah.

Baca Juga : Pembukaan Halaqoh Wali Santri Ma’had Sabilul Qur’an

Penutup

Orang tua adalah kunci utama dalam menumbuhkan kecintaan anak kepada Al-Qur’an, karena mendidik generasi Qur’ani adalah investasi akhirat yang mulia. Tips praktis di atas harus disesuaikan dengan rutinitas harian anak, juga perhatikan peran ibu terutama pada usia dini, mengingat keterikatan emosional yang lebih besar pada ibu. Berbekal keyakinan pada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dan ikhtiar yang istikamah, insya Allah anak-anak akan tumbuh menjadi generasi terbaik umat ini sebagaimana sabda Nabi ﷺ, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).

Cinta Al-Qur’an tumbuh dari rumah; dimulai dari telinga kecil yang mendengar, hati yang merasakan, hingga lisan yang menghafalkan

Mulailah dengan menumbuhkan kecintaan anak pada Al-Qur’an sejak dini dengan menciptakan lingkungan yang mendukung. Orang tua dapat memperkenalkan Al-Qur’an melalui pendengaran pada usia 0-2 tahun, membacakan dan menceritakan kisah Al-Qur’an pada usia 2-6 tahun, serta melatih hafalan dan pemahaman pada usia muda. Membaca Al-Qur’an di rumah, mengadakan halaqah keluarga, dan berdialog tentang nilai-nilai Al-Qur’an akan memperkuat ikatan emosional dan spiritual, serta menciptakan suasana Qur’ani. Semua ikhtiar ini merupakan rahasia orang tua dalam menumbuhkan kecintaan anak pada Al-Qur’an. Semoga Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memudahkan kita mendidik anak-anak agar menjadi hamba-Nya yang taat dan mencintai Al-Qur’an.

Disusun oleh: Abu Musa, Agus Fadilla Sandi
Ketua Yayasan Markaz Studi Al-Qur’an
HRD Manager Ma’had Sabilul Qur’an (MSQ); Pondok Tahfizh SMP-SMA Putra

 

Sumber Referensi :

  • [i] ‘Abdullāh Nāṣiḥ ‘Ulwān, Tarbiyaẗu al-Awlād fī al-Islām, 11 ed. (Kairo: Dār as-Salām li-aṭ-Ṭibā‘ah wa-an-Nashr wa-at-Tawzī‘ wa-at-Tarjamah, 1992), h. 772.
  • [ii] Ibn Khaldūn, Muqaddimah Ibnu Khaldūn, vol. 4 (Lajnah al-Bayān al-‘Arabī, 1965), h. 1239.
  • [iii] Jalāl al-Dīn Al-Maḥallī dan Jalāl al-Dīn Al-Suyūṭī, Tafsīr al-Jalālayn (Al-Qāhira: Dār al-Ḥadīth, 2010), h. 311.
  • [iv] Abu al-Fida’ Isma’il ibn ’Umar ibn Kathir al-Qurashi al-Basri, Tafsir al-Qur’an al-Adzim (Mesir: Dar Tayyibah li al-Nashr wa al-Tawzi’, 1999), h. 306.
  • [v] “الدرر السنية – الموسوعة الحديثية – شروح الأحاديث,” dorar.net, diakses 14 Desember 2024, https://dorar.net/hadith/sharh/23627.