Ma'had Sabilul Qur'an

Bersungguh-Sungguhlah Dalam Menuntut Ilmu!

Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim, sekaligus jalan mulia menuju ridha Allah subhanahu wa ta’alaa. Ilmu bukan sekadar kumpulan pengetahuan, melainkan cahaya yang menerangi hati, menuntun langkah, dan mengangkat derajat seorang hamba di dunia maupun akhirat. Karena itulah, Allah Yang Maha Rahman lagi Maha Rahim tidak membiarkan hamba-Nya berjalan tanpa bekal. Sejak lahir, manusia telah dianugerahi sarana utama untuk menuntut ilmu, yakni pendengaran, penglihatan, dan hati nurani. Tiga karunia besar ini menjadi pintu gerbang segala pengetahuan, sekaligus amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Menuntut ilmu dengan bersungguh-sungguh sebagai bekal hidup menurut ajaran Islam

 

Bekal Menuntut Ilmu

Allah subhanahu wa ta’alaa dengan Rahman dan Rahim-Nya telah menganugerahi hamba-Nya bekal yang memudahkannya dalam menuntut ilmu. Di antara anugerah yang telah diberikan sejak manusia terlahir adalah; pendengaran, penglihatan, dan hati nurani. Allah subhanahu wa ta’alaa berfirman, “… dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani agar kamu bersyukur” (Q.S An-Nahl [16]: 78).

Formulir Program Orang Tua Asuh Santri Dhuafa

Baca Juga : Upgrading Asatidz MSQ: Meneguhkan Ruh Pendidikan, Keteladanan, serta Semangat dalam Berbuat Kebaikan

Pendengaran didapatkan melalui telinga, penglihatan diperoleh lewat mata, dan hati nurani dirasakan melalui hati atau dalam sebagian pandangan menyebutnya dengan jantung. Allah mengkhususkan ketiga organ tersebut disebabkan keutamaannya dan karena perannya sebagai kunci untuk setiap ilmu. Seorang hamba mustahil mendapatkan ilmu kecuali melalui tiga organ itu.1

 

“Pendengaran, penglihatan, dan hati nurani adalah kunci menuntut ilmu; syukurilah, karena semua akan dimintai pertanggungjawaban.”

 

Oleh karenanya, seorang hamba patut bersyukur kepada Allah atas karunia yang mulia dengan menggunakannya dalam ketaatan kepada-Nya. Pendengaran, pengelihatan, dan hati nurani adalah sarana terbaik dalam menuntut ilmu. Gunakan dengan sebaik-baiknya agar tak jatuh dalam kebodohan, sebab ketiganya akan dimintai pertanggungjawabannya. Allah subhanahu wa ta’alaa berfirman, “Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kauketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya” (Q.S. Al-Isra’ [17]: 36).

Tuntutlah Ilmu! Keutamaan dan Manfaat Menuntut Ilmu dalam Kehidupan

Wahai penuntut ilmu, tuntulah ilmu! Ilmu harus dituntut. Menuntut, secara bahasa bermakna meminta dengan keras, menagih, menggugat, berusaha keras untuk mendapat (hak atas sesuatu), berusaha atau berdaya upaya mencapai (mendapat dan sebagainya) suatu tujuan dan sebagainya, berusaha supaya mendapat pengetahuan (ilmu dan sebagainya); mempelajari.2

 

“Menuntut ilmu penuh ujian, tapi ujungnya surga. Bersungguh-sungguhlah, karena setiap kesulitan sebanding dengan kemuliaan dari Allah.”

 

Semua makna “menuntut” menunjukkan akan aktivitas yang aktif, bukan pasif. Lebih dari itu, aktivitas aktif yang dimaksudkan harus disertai dengan upaya yang keras. Renungilah Imam Syafi’i yang tak pernah kenyang selama puluhan tahun. Imam Malik yang sholat shubuh dengan bekal wudhu di waktu Isya’ tanda beliau berjaga di malamnya. Lantas, sudah seberapa keras upaya kita dalam menuntut ilmu?

Jalan menuntut ilmu adalah jalan yang penuh ujian. Namun, ingatlah bahwa garis akhir dari jalan ini adalah surga-Nya Allah. Setiap ganjaran akan setimpal dengan beratnya ujian. Maka, setiap kali engkau merasa susah dan ingin menyerah, ingatlah indahnya jannah. Setiap kali kau merasa tak mampu, ingatlah Allah yang selalu membersamaimu. Sebagaimana kadar kesulitan, maka sekadar itu pula lah kemuliaan yang kan kaudapatkan. Bersungguh-sungguhlah dalam menuntut ilmu!

Disusun oleh: Abu Musa, Agus Fadilla Sandi
Ketua Yayasan Markaz Studi Al-Qur’an
HRD Manager Ma’had Sabilul Qur’an (MSQ); Pondok Tahfizh SMP-SMA Putra

Maraji’:
1 Abdurrahman ibnu Nashir As-Sa’di. Taisir Al-Karim Ar-Rahman fi Tafsir Kalam Al-Mannan. Kairo: Darel Hadith, 2005. Hal, 474.
2 Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, KBBI Daring, https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/menuntut