Catatan Ini Disarikan dari Seminar Kepengasuhan oleh Ustadz Yusuf Ustman Baisa, Lc.
Pendidikan sejatinya bukan sekadar mengisi otak murid dengan pengetahuan, tetapi membangunkan jiwa mereka agar sadar akan kebutuhan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Seorang pengasuh memiliki peran fundamental dalam menumbuhkan kesadaran tersebut. Ia membantu murid memiliki dalam beberapa hal diantaranya:
- Pemahaman agama yang lurus sesuai manhaj salafus shalih
- Berpikir dengan kecerdasan
- Memiliki keinginan mulia
- Semangat yang terarah
- Sikap realistis terhadap kondisi diri dan lingkungan.
Kesadaran inilah yang menjadi fondasi agar murid belajar dengan ruh, bukan sekadar memenuhi kewajiban sekolah.
Peran pengasuh dalam pendidikan sangat luas dan kompleks. Ia berfungsi sebagai instruktur yang memberi arahan teknis, motivator yang menyalakan semangat, fasilitator yang menciptakan lingkungan tumbuh peserta didik, konsultan yang mendengar masalah dan memberi solusi, mediator yang menyelesaikan konflik, serta inspirator yang menjadi teladan hidup. Karena itu, kepengasuhan bukan hanya penjaga asrama atau pengawas kegiatan, tetapi membina jiwa yang menyertai perjalanan perkembangan peserta didik.
Dalam proses pembentukan karakter murid, pengasuh hadir sebagai pendamping yang berperan sebagai pembimbing yang mengarahkan murid menuju kebaikan, melatih dan membentuk kebiasaan baik secara konsisten, pengarah yang membantu menentukan tujuan hidup, serta menjadi figur teladan yang tingkah lakunya mencerminkan nilai yang diajarkan. Pengasuhan adalah usaha menghidupkan kebiasaan hingga menjadi karakter yang melekat kuat dalam diri murid.
Sayangnya, banyak sekolah modern telah kehilangan ruh kepengasuhannya. Fokus pendidikan kini lebih tertuju pada capaian pengetahuan dan hafalan. Akibatnya, murid dinilai pintar jika unggul secara akademik, tanpa mempertimbangkan kedewasaan emosional, moralitas, atau keterampilan hidupnya. Di era hadirnya kecerdasan buatan (AI) dan robot, hafalan dan pengetahuan semakin mudah diakses secara instan, sehingga sekolah yang hanya fokus pada dua hal ini akan ditinggalkan dan dianggap tidak relevan lagi.
Itulah sebabnya pendidikan harus dipahami dalam rumus yang utuh: pendidikan = pengajaran + pengasuhan. Pengajaran adalah proses transfer pengetahuan, sedangkan pengasuhan adalah transfer nilai. Pengajaran mengisi otak, sedangkan pengasuhan membentuk hati dan sikap. Jika pengajaran tanpa pengasuhan maka lahirlah manusia pintar tetapi tidak beradab; sebaliknya jika pengasuhan tanpa pengajaran maka tumbuh jiwa baik tetapi tidak memiliki daya saing.
Namun, evaluasi pendidikan saat ini masih cenderung sempit karena hanya mengukur aspek pengetahuan dan hafalan. Padahal kompetensi sejati mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Oleh sebab itu diperlukan evaluasi yang mencerminkan keseimbangan antara kecerdasan kognitif, akhlak, dan kemampuan aplikatif dalam kehidupan nyata. Keberadaan AI juga semakin menegaskan bahwa sekolah tidak boleh hanya mendidik hafalan, tetapi harus mencetak manusia yang unggul dalam berpikir, berakhlak, dan beradaptasi.
Pengetahuan memang tetap penting, tetapi tidak boleh berlebihan. Ia harus dijadikan landasan untuk berkarya dan berperilaku. Di sinilah pentingnya pengasuh yang bertugas mengubah ilmu menjadi amal, teori menjadi praktik, dan konsep menjadi aplikasi nyata. Setiap murid pun perlu diajak berdiskusi serta diberi ruang untuk mengemukakan pendapat agar tumbuh karakter percaya diri, berpikir kritis, dan memiliki kemandirian berpikir.
Sayangnya, kepengasuhan saat ini masih lemah karena belum memiliki struktur sistematis. Belum tersedia pengasuh BK khusus, belum ada klinik karakter, kurikulum kepengasuhan belum tersusun, serta raport dan ijazah pengasuhan belum dibuat. Selain itu, sinkronisasi antara pengajaran dan pengasuhan belum berjalan seimbang sehingga murid mungkin memahami pelajaran, tetapi tidak merasakan kehangatan proses pembinaan jiwa.
Kesimpulan:
Kepengasuhan merupakan ruh utama dalam pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan akal, tetapi juga menghidupkan jiwa, membentuk karakter, serta mengarahkan peserta didik menuju kepribadian yang beradab dan berdaya guna. Di era kecerdasan buatan yang mampu menggantikan hafalan dan pengetahuan instan, pengasuh hadir sebagai pembimbing nilai yang mengubah ilmu menjadi amal, membangun kebiasaan menjadi karakter, serta menumbuhkan kesadaran diri, akhlak mulia, dan keterampilan kehidupan. Oleh karena itu, pendidikan sejati menuntut adanya integrasi harmonis antara pengajaran dan pengasuhan, dengan sistem yang terstruktur dan evaluasi yang mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan, agar lahir generasi cerdas secara intelektual, matang secara emosional, kuat secara spiritual, dan siap menghadapi tantangan zaman.
Poin-Poin Utama:
- Pengasuh membangunkan kesadaran jiwa murid agar berpikir lurus, cerdas, mulia, semangat, dan realistis.
- Pengasuh berperan sebagai instruktur, motivator, fasilitator, konsultan, mediator, dan inspirator.
- Pengasuhan adalah pendampingan pembentukan karakter melalui keteladanan dan latihan kebiasaan.
- Sekolah modern kehilangan ruh pengasuhan karena terjebak pada pengetahuan dan hafalan.
- Pendidikan ideal = pengajaran (transfer knowledge) + pengasuhan (transfer value).
- Evaluasi pendidikan saat ini terlalu fokus pada kognitif dan hafalan, kurang mengukur sikap dan keterampilan.
- Era AI menuntut sekolah mencetak manusia cerdas jiwa, akhlak, dan keterampilannya, bukan sekadar hafal.
- Pengasuhan mengubah ilmu menjadi amal, teori menjadi praktik, konsep menjadi aksi nyata.
- Murid harus diberi ruang diskusi agar tumbuh percaya diri dan kritis.
- Sistem pengasuhan masih lemah karena belum memiliki kurikulum, BK, raport, dan klinik karakter yang jelas.
Penulis : Ust Ubaidillah Al Ihror, S.E
Mudir Manajeman dan Kewirausahaan
