Ma'had Sabilul Qur'an

Dialog Multaqo PULDAPII ke-15: Menjawab Tantangan Dakwah Kekinian di Indonesia

Batam, 22 Oktober 2025 — Rangkaian kegiatan Multaqo PULDAPII ke-15 di Hotel Harmoni One, Batam, berlanjut dengan sesi *Dialog dan Diskusi Dakwah bertema “Membincang Tantangan Dakwah Kekinian di Indonesia.”*

Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber utama, Ustadz Kholid Syamhudi, Lc., M.Pd. dan Dr. KH. Didik Haryanto, Lc., M.P.I., yang memberikan pandangan mendalam tentang dinamika dan strategi dakwah di era modern kini.

Ustadz Kholid Syamhudi: Tantangan dan Strategi Dakwah di Tengah Masyarakat

Dalam pemaparannya, Ustadz Kholid menjelaskan bahwa dakwah di Indonesia menghadapi berbagai tantangan, di antaranya kuatnya adat dan tradisi lokal yang bercampur dengan ajaran agama, hubungan sosial yang eksklusif, hambatan bahasa dan budaya, kesenjangan ekonomi, rendahnya kualitas pendidikan, serta perubahan sosial menuju individualisme dan materialisme.

“Dakwah tidak cukup hanya dengan ceramah (bil qoul), tapi harus hadir dalam tindakan nyata (bil hal),” tegas beliau.

Untuk menjawab tantangan itu, beliau menawarkan beberapa strategi, di antaranya:

  • Mengedepankan dakwah partisipatif dan kontekstual,
  • Menyampaikan pesan dakwah yang humanis dan inklusif,
  • Mendorong pemberdayaan ekonomi umat,
  • Mengoptimalkan filantropi Islam,
  • Memperkuat lembaga dakwah di akar rumput,
  • Meningkatkan literasi digital dan keuangan,
  • Melakukan kaderisasi dai komunitas, dan
  • Membangun kolaborasi lintas lembaga.

Menurut beliau, dakwah yang adaptif, komunikatif, dan berkolaborasi dengan berbagai pihak akan lebih mudah diterima oleh masyarakat luas.

K.H. Didik Haryanto: Dakwah di Kalangan Profesional dan Akademisi

Sementara itu, Dr. K.H. Didik Haryanto menyoroti tantangan dakwah di kalangan birokrat, eksekutif, dan akademisi, yang menurutnya membutuhkan pendekatan berbeda dan penuh kearifan.

Beliau menjelaskan beberapa hambatan yang kerap dihadapi para dai, seperti terbatasnya akses untuk masuk ke lingkungan profesional, godaan duniawi ketika sudah dekat dengan kalangan elite, kurangnya kompetensi lintas bidang, serta munculnya stereotip negatif terhadap dai.

“Kalau belum bisa masuk, bersabarlah — bisa jadi itu cara Allah menjaga keteguhan niat kita,” ujarnya.

K.H. Didik juga menegaskan bahwa metode dakwah sama pentingnya dengan isi dakwah. “Materi bisa benar, tapi cara penyampaiannya harus sesuai dengan tuntunan Nabi ﷺ. Dakwah bukan tontonan, tapi tuntunan,” katanya.

Formulir Program Orang Tua Asuh Santri Dhuafa

Beliau menekankan pentingnya keikhlasan, sikap melayani, serta kemampuan membangun jaringan dan menjadi jembatan (bridging) antara berbagai lapisan masyarakat.
“Sayyidul qaum khādimuhum — pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka,” ujarnya mencontohkan keteladanan Imam Ahmad yang melayani muridnya dengan penuh kerendahan hati.

Menutup dengan Seruan Kolaborasi

Sesi dialog ini ditutup dengan ajakan agar para dai dan lembaga dakwah dan pendidikan Islam memperkuat sinergi dan meningkatkan kapasitas dakwah di tengah perubahan zaman.
Semangat ta‘āwun ‘alal birri wat-taqwā (tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan) harus menjadi ruh dakwah agar Islam semakin dirasakan manfaatnya bagi umat dan bangsa.

📝 Abu Musa, Agus Fadilla Sandi
🏬 Multaqo PULDAPII ke-15 – Batam, Kepulauan Riau