Ma'had Sabilul Qur'an

Dialog Multaqo PULDAPII ke-15: Pendidikan Islam sebagai Kunci Menuju Indonesia Emas 2045

Batam, 23 Oktober 2025 — Dalam rangkaian kegiatan Multaqo PULDAPII ke-15 di Hotel Harmoni One, Batam, sesi Dialog dan Diskusi Pendidikan Islam menghadirkan Ustadz Abu Qotadah dengan tema menarik dan penuh refleksi: “Orientasi Pendidikan Masa Depan dengan Visi Indonesia Emas 2045.”

Dengan gaya penyampaian yang tajam dan inspiratif, beliau mengajak para peserta untuk merenung — apakah bangsa ini akan menuju Indonesia Emas, atau justru tergelincir menjadi Indonesia Cemas?

Indonesia Emas vs Indonesia Cemas

Ustadz Abu Qotadah membuka dialog dengan perbandingan dua wajah masa depan bangsa.
“Apakah kita akan menyongsong Indonesia Emas 2045 dengan generasi unggul dan beradab, atau justru Indonesia Cemas dengan generasi yang kehilangan arah dan daya saing?” ujarnya menggugah.
Beliau menegaskan bahwa jawabannya sangat bergantung pada kualitas pendidikan, khususnya pendidikan Islam sebagai penjaga nilai, pembentuk karakter, dan pengarah peradaban.
Menurut beliau:

  • Indonesia Emas adalah bangsa yang beriman, beraqidah lurus, berdaya saing, dan siap menghadapi tantangan zaman.
  • Indonesia Cemas adalah bangsa yang mungkin pintar, namun lemah secara moral dan tidak siap menghadapi kompleksitas global.

Tiga Infrastruktur Pendidikan

Dalam paparannya, Ustadz Abu Qotadah memaparkan hasil pengamatan dan penelitian terhadap potret sekolah-sekolah Islam di Indonesia. Ia mengidentifikasi tiga jenis infrastruktur pendidikan yang harus diperkuat agar pendidikan Islam mampu menjawab tantangan zaman:

  1. Infrastruktur Organisasi — mencakup tata kelola, manajemen, kepemimpinan, dan struktur kelembagaan yang profesional.
  2. Infrastruktur Sosial — meliputi paradigma dan cara pandang masyarakat terhadap pendidikan. “Lebih dari 30% masyarakat Indonesia menyekolahkan anak karena tuntutan aturan, bukan karena kesadaran mendidik,” ungkapnya. Ia menekankan perlunya komunikasi yang baik antara orang tua dan pihak sekolah agar tidak terjadi salah paham dalam tanggung jawab mendidik anak.
  3. Infrastruktur Politik — peran kebijakan publik yang mendukung ekosistem pendidikan Islam agar dapat tumbuh berkelanjutan dan berkontribusi bagi bangsa.

Ketiga infrastruktur ini, menurut beliau, saling terkait dan membentuk ekosistem pendidikan yang kompleks. “Kelemahan pada satu sisi akan berdampak pada yang lain, sehingga dibutuhkan intervensi komprehensif dan sinergi lintas sektor,” jelasnya.

Tantangan Nyata Dunia Pendidikan

Ustadz Abu Qotadah juga menyoroti realitas yang sering dihadapi lembaga pendidikan:

  • Kepemimpinan yang tidak visioner,
  • Guru yang enggan belajar dan berkembang,
  • Lingkungan sekolah yang toksik,
  • Kurangnya kontribusi dan komunikasi orang tua,
  • Fokus berlebihan pada nilai akademik.

Menurut beliau, kondisi tersebut menunjukkan adanya “kezaliman” dalam dunia pendidikan — yakni terputusnya hubungan antara pembelajaran dan kehidupan nyata.

Formulir Program Orang Tua Asuh Santri Dhuafa

4C + 1I: Rumus Kompetensi Generasi Masa Depan
Sebagai solusi, beliau memperkenalkan prinsip “4C + 1I” sebagai rumus pendidikan ideal abad ke-21:

  • Critical Thinking (berpikir kritis)
  • Creativity (kreativitas)
  • Collaboration (kolaborasi)
  • Communication (komunikasi)
  • Islamic Values (nilai-nilai Islam)

“Empat kompetensi ini harus dilandasi nilai Islam agar tidak sekadar melahirkan generasi cerdas, tapi juga berakhlak dan beradab,” tegas beliau.

Pendidikan Sesuai Fitrah
Beliau juga menekankan pentingnya pendidikan yang sesuai fitrah anak, yaitu pendidikan yang mengenali bakat alami dan menumbuhkannya secara terarah. “Pendidikan yang benar bukan memaksa anak menjadi seragam, tapi membantu mereka menemukan potensi yang Allah anugerahkan,” ungkapnya.

Investasi untuk Masa Depan
Menutup penyampaiannya, Ustadz Abu Qotadah menyerukan agar lembaga pendidikan Islam berani berinvestasi — baik dalam hal finansial, sumber daya manusia, maupun konsep pendidikan.
“Kalau kita ingin melahirkan generasi emas, maka pendidikan Islam harus memiliki visi, konsep, dan investasi yang kuat. Karena masa depan bangsa ditentukan oleh kualitas pendidikannya,” pungkas beliau.

Laporan: Abu Musa, Agus Fadilla Sandi
Multaqo PULDAPII ke-15 – Batam, Kepulauan Riau