Ma'had Sabilul Qur'an

Kegiatan Madrasah Khitabah Ma'had Sabilul Qur'an

Sadarlah, Waktu Tak Pernah Kembali dan Usia Terus Berkurang!

Di tengah kesibukan bekerja, mengejar target, lembur, dan rutinitas harian yang padat, banyak dari kita—khususnya para ayah dan suami pekerja—tanpa sadar sedang “kehilangan” sesuatu yang sangat berharga: waktu. Hari berganti hari, pekan berlalu, usia terus bertambah, namun sering kali kesadaran untuk berbenah justru tertunda.

Padahal, waktu yang telah berlalu tidak pernah kembali, dan usia yang berkurang tidak bisa ditawar.

 

Waktu: Modal Kehidupan yang Paling Mahal

Dalam Islam, waktu bukan sekadar hitungan detik dan jam. Waktu adalah modal utama kehidupan manusia. Bahkan nilainya jauh lebih mahal daripada harta.

Bayangkan seseorang yang sedang berada di detik-detik terakhir hidupnya. Jika ia diberi pilihan antara seluruh harta yang dimiliki atau tambahan umur satu hari saja, niscaya ia akan memilih tambahan waktu. Inilah bukti bahwa waktu lebih berharga dari apa pun yang kita kejar di dunia.

Allah ﷻ sampai bersumpah dengan waktu:

﴿وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ﴾

“Demi waktu, sungguh manusia benar-benar berada dalam kerugian.” (QS. Al-‘Ashr: 1–2)

Ayat ini menegaskan bahwa kerugian manusia bukan karena kekurangan harta, tetapi karena lalai mengelola waktu dan usia.

 

Dua Nikmat yang Sering Menipu Manusia

Rasulullah ﷺ mengingatkan:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ“Dua nikmat yang sering menipu manusia: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari no. 6412)

Sehat dan punya waktu luang sering dianggap biasa, hingga keduanya hilang. Padahal, kelak manusia akan dimintai pertanggungjawaban secara rinci.

Rasulullah ﷺ bersabda:

لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ

“Kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang umurnya: untuk apa ia habiskan.” (HR. Tirmidzi no. 2602, hadits shahih)

Bukan sekadar berapa lama kita hidup, tetapi untuk apa hidup itu dihabiskan.

 

Realitas Kehidupan Modern

Tak dapat dimungkiri, kehidupan modern membuat banyak orang tenggelam dalam rutinitas:

  • Waktu habis di jalan dan di kantor
  • Fokus tertuju pada layar ponsel dan laptop
  • Pulang ke rumah dalam kondisi lelah

Tanpa disadari, dampaknya sangat nyata:

  • Shalat sering di akhir waktu
  • Al-Qur’an jarang disentuh
  • Anak kurang mendapat perhatian dan pendidikan
  • Istri kurang ditemani dan didampingi

Semua ini terjadi bukan karena niat buruk, tetapi karena waktu tidak dikelola dengan kesadaran iman.

 

Gunakan Sisa Usia Sebelum Terlambat

Rasulullah ﷺ memberikan panduan hidup yang sangat ringkas namun dalam:

اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ… وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ“Manfaatkan hidupmu sebelum matimu.” (HR. Al-Hakim, shahih)

Para ulama salaf memberikan nasihat yang menggugah. Fudhail bin ‘Iyadh رحمه الله berkata kepada seseorang yang telah berusia 60 tahun:

تُحْسِنُ فِيمَا بَقِيَ يُغْفَرُ لَكَ مَا مَضَى وَمَا بَقِيَ، فَإِنَّكَ إِنْ أَسَأْتَ فِيمَا بَقِيَ أُخِذْتَ بِمَا مَضَى وَمَا بَقِيَ

“Perbaikilah amalmu pada sisa umurmu, niscaya akan diampuni bagimu apa yang telah berlalu dan apa yang tersisa. Namun jika engkau berbuat buruk pada sisa umurmu, engkau akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang telah berlalu dan apa yang tersisa.” (Hilyatul Auliya’)

Artinya, sisa usia bisa menjadi penutup yang indah, atau justru akhir yang penuh penyesalan—tergantung bagaimana kita mengisinya.

 

Waktu Tak Pernah Kembali, Usia Dewasa Adalah Alarm Kesadaran

Imam Al-Ghazali رحمه الله dalam Ayyuhal Walad menulis:

وَمَنْ جَاوَزَ الْأَرْبَعِيْنَ وَلَمْ يَغْلِبْ خَيْرُهُ عَلٰى شَرِّهِ فَلْيَتَجَهَّزْ إِلَى النَّارِ

“Barang siapa melewati usia 40 tahun dan kebaikannya tidak mengalahkan keburukannya, hendaklah ia bersiap-siap menuju neraka.”

Allah ﷻ menggambarkan penyesalan manusia di akhirat:

وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَآ أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَٰلِحًا غَيْرَ ٱلَّذِى كُنَّا نَعْمَلُ ۚ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُم مَّا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَن تَذَكَّرَ وَجَآءَكُمُ ٱلنَّذِيرُ ۖ فَذُوقُوا۟ فَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِن نَّصِيرٍ

 

“Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan”. Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.” (Surat Fatir Ayat 37)

Sebagian mufassir menjelaskan bahwa umur yang cukup untuk sadar adalah sejak dewasa (18 tahun), dan pendapat lain menyebut rentang 40–60 tahun. Maka usia dewasa bukan lagi masa coba-coba, tetapi masa pertanggungjawaban.

 

Pertanyaan yang Harus Kita Jawab

Setiap hari, hakikatnya kita sedang berjalan menuju Allah ﷻ. Pertanyaannya bukan lagi: “Masih berapa lama kita hidup? Tetapi: “Apa bekal yang kita bawa?”

Semoga tulisan ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk lebih menghargai waktu, memperbaiki amal di sisa usia, dan menyadari bahwa waktu tak pernah kembali, dan usia terus berkurang.