Bogor, Ma’had Sabilul Qur’an (MSQ) — Kesehatan mental anak kini menjadi perhatian serius di tengah era modernisasi dan derasnya arus informasi. Menanggapi fenomena tersebut, Ustadz Ubaidillah Al-Ihror, S.E., hafidzahullah, menyampaikan pemaparan mendalam mengenai pentingnya fondasi agama dalam menjaga kesehatan mental generasi muda. Kajian tersebut berlangsung pada Jumat, 17 April 2026 bertempat di Masjid Ma’had Sabilul Qur’an.

Dalam pemaparannya di hadapan para santri, Ustadz Ubaidillah meluruskan pandangan dan memberikan pemahaman mendasar mengenai apa itu kesehatan mental serta bagaimana cara menjaganya dalam kehidupan sehari-hari di pondok.
Memahami Kesehatan Mental Versi Santri
Ustadz Ubaidillah Al-Ihror menjelaskan bahwa bagi seorang penuntut ilmu, kesehatan mental dapat dirangkum ke dalam beberapa poin penting:
-
Kesehatan Mental Adalah Ketenangan Hati (Thuma’ninah)
Kesehatan mental bukan sekadar kondisi bebas dari masalah, melainkan kemampuan hati untuk tetap tenang dan bersabar saat menghadapi ujian menuntut ilmu. Hati yang sehat adalah hati yang terhubung erat dengan Allah SWT melalui dzikir dan Al-Qur’an.
-
Mengelola Rasa Lelah dan Cemas dengan Pasrah (Tawakal)
Rasa lelah saat muraja’ah, cemas ketika hafalan belum lancar, atau rindu keluarga adalah hal yang wajar. Ustadz Ubaidillah menekankan bahwa kunci kesehatan mental santri terletak pada kepasrahan pada takdir Allah. Santri berkewajiban ikhtiar dan berjuang, sedangkan hasil akhirnya diserahkan sepenuhnya kepada Allah tanpa membebankan pikiran secara berlebihan.
-
Aturan dan Syariat Sebagai Benteng Jiwa
Menjaga kesehatan mental juga berarti menjaga ketundukan pada syariat dan tata tertib ma’had. Ketundukan dan kedisiplinan bukanlah bentuk kekangan, melainkan perlindungan agar jiwa tetap bersih. Hati yang taat dan jauhi maksiat akan jauh lebih lapang dan mudah menyerap ilmu.
-
Menjadikan Al-Qur’an Sebagai Obat Jiwa (Syifa’)
Al-Qur’an bukan hanya target hafalan, melainkan penawar alami bagi jiwa yang lelah. Ketika santri merasa tertekan atau jenuh, berinteraksi dengan Al-Qur’an secara ikhlas adalah terapi terbaik untuk melapangkan dada.

Melalui pemaparan ini, diharapkan para santri Ma’had Sabilul Qur’an dapat lebih memahami pentingnya menjaga kesehatan jiwa di tengah perjuangan menuntut ilmu. Menjadi santri yang tangguh bukan berarti tidak pernah merasa lelah, melainkan tahu ke mana harus menyandarkan hati saat ujian datang.
Dengan terus melatih kepasrahan kepada Allah, menjaga kedisiplinan syariat, serta menjadikan Al-Qur’an sebagai penawar rasa lelah, perjalanan menghafal dan menuntut ilmu akan terasa jauh lebih ringan dan bermakna. Tetap semangat dan saling menguatkan, kawan-kawan santri!
