Ma'had Sabilul Qur'an

Pengurus MSQ mengikuti Kajian Tematik Tafsir Al-Qur’an di Masjid Ma’had Sabilul Qur’an. Foto: Dokumentasi MSQ.

MSQ Melalui Majelis Taklim Markaz Studi Al-Qur’an Gelar Kajian Tafsir: Al-Qur’an Lebih Berharga dari Seluruh Kenikmatan Dunia

Ma’had Sabilul Qur’an (MSQ) melalui Majelis Taklim Markaz Studi Al-Qur’an menyelenggarakan Kajian Tematik Tafsir Al-Qur’an bertema “Al-Qur’an Lebih Berharga dari Seluruh Kenikmatan Dunia” pada Kamis, 4 Juni 2026, selepas Maghrib di Masjid MSQ.

Kajian yang dilaksanakan secara hybrid—tatap muka dan melalui Zoom—tersebut menghadirkan Ustadz Agus Fadilla Sandi, S.H., M.Ag., Mudir Ma’had Sabilul Qur’an Bidang SDM dan Dakwah. Kegiatan dibuka tanpa biaya agar manfaat majelis ilmu dapat dijangkau oleh jamaah yang hadir di masjid maupun yang mengikuti dari tempat lain.

Dalam kajian tersebut, Ustadz Agus mengupas Surah Al-Hijr ayat 87–88. Dua ayat ini menempatkan Al-Qur’an sebagai karunia yang agung, kemudian mengajarkan agar seorang beriman tidak terpaku pada kemewahan dunia, tidak larut dalam kesedihan ketika dakwah ditolak, dan tetap bersikap lembut kepada kaum mukminin.

وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعًا مِنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ

“Sungguh, Kami benar-benar menganugerahkan kepadamu tujuh (ayat) yang dibaca berulang-ulang dan Al-Qur’an yang agung.”

QS. Al-Hijr [15]: 87

Santri MSQ mengikuti Kajian Tematik Tafsir Al-Qur’an di Masjid Ma’had Sabilul Qur’an. Foto: Dokumentasi MSQ
Santri MSQ mengikuti Kajian Tematik Tafsir Al-Qur’an di Masjid Ma’had Sabilul Qur’an. Foto: Dokumentasi MSQ

Al-Qur’an sebagai Nikmat Terbesar

Ustadz Agus menjelaskan bahwa frasa sab‘an minal-matsani pada ayat ke-87 secara masyhur merujuk kepada Surah Al-Fatihah, tujuh ayat yang terus diulang dalam salat. Dalam sebagian penjelasan ulama tafsir, frasa tersebut juga dikaitkan dengan tujuh surah panjang. Apa pun rincian perbedaan penafsirannya, pesan utamanya tetap kuat: Allah telah menganugerahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ dan umatnya Al-Qur’an yang agung.

Materi kajian juga menampilkan kisah tujuh kafilah dagang yang disebutkan dalam sebagian kitab tafsir. Kafilah-kafilah itu membawa berbagai komoditas berharga. Ketika sebagian kaum muslimin membayangkan manfaat harta tersebut, turunlah pengajaran agar mereka menyadari bahwa karunia Al-Qur’an jauh lebih berharga daripada kekayaan yang sedang mereka lihat. Kisah ini disampaikan sebagai ilustrasi tafsir, sedangkan pokok pesannya bertumpu pada rangkaian ayat Al-Hijr 87–88.

“Allah telah mencukupkan Nabi Muhammad ﷺ dengan Al-Qur’an sehingga beliau tidak perlu menggantungkan pandangan kepada apa yang ada di tangan manusia.”
— Pokok materi kajian

Menata Pandangan terhadap Dunia

Ayat berikutnya memuat larangan untuk “memanjangkan pandangan” kepada kenikmatan yang diberikan kepada berbagai golongan manusia. Menurut pemaparan Ustadz Agus, larangan ini bukan berarti Islam mengharamkan harta, rumah, kendaraan, jabatan, atau kenyamanan yang halal. Yang harus dijaga adalah hati agar tidak terus membandingkan diri, mengagumi dunia secara berlebihan, dan menjadikan kepemilikan orang lain sebagai ukuran kebahagiaan.

لَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ

“Jangan sekali-kali engkau tujukan pandanganmu sehingga tergiur kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka. Jangan engkau bersedih hati atas mereka dan berendah hatilah terhadap orang-orang mukmin.”

QS. Al-Hijr [15]: 88

 

Peserta diajak untuk mengevaluasi apa yang paling sering memenuhi pikiran dan waktu sehari-hari. Ketika perhatian terhadap dunia jauh lebih besar daripada interaksi dengan Al-Qur’an, seorang muslim perlu berhenti sejenak dan menata kembali prioritasnya.

 

Pengurus MSQ mengikuti Kajian Tematik Tafsir Al-Qur’an di Masjid Ma’had Sabilul Qur’an. Foto: Dokumentasi MSQ.
Pengurus MSQ mengikuti Kajian Tematik Tafsir Al-Qur’an di Masjid Ma’had Sabilul Qur’an. Foto: Dokumentasi MSQ.

Dakwah Tidak Diukur dari Banyaknya Pengikut

Kajian ini juga mengangkat pesan bagi para dai, guru, orang tua, dan siapa pun yang mengajak kepada kebaikan. Firman Allah, “Jangan engkau bersedih hati atas mereka,” mengajarkan agar seseorang tidak larut dalam kesedihan ketika nasihat atau dakwahnya belum diterima. Hidayah berada dalam kekuasaan Allah, sedangkan tugas manusia adalah menyampaikan kebenaran dengan ikhlas, sabar, dan cara yang baik.

“Keberhasilan dakwah bukan semata-mata pada banyaknya pengikut, tetapi pada kesungguhan menyampaikan kebenaran dengan ikhlas.”
— Ustadz Agus Fadilla Sandi

Ilmu Harus Melahirkan Kelembutan

Bagian akhir ayat memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ untuk merendahkan sayap kepada kaum mukminin. Ustadz Agus menerangkan bahwa ungkapan tersebut menggambarkan kelembutan, tawaduk, perlindungan, dan kasih sayang. Seorang yang berilmu tidak semestinya menjadi keras dan merasa lebih tinggi. Semakin bertambah ilmunya, semakin besar pula kerendahan hati dan kepeduliannya kepada orang lain.

Melalui kajian ini, MSQ menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pendidikan Al-Qur’an yang tidak berhenti pada kemampuan membaca dan menghafal. Al-Qur’an diharapkan membentuk cara pandang, menata orientasi hidup, menguatkan semangat dakwah, dan melahirkan akhlak yang lembut.

Majelis Taklim Markaz Studi Al-Qur’an merupakan salah satu ruang dakwah dan pembelajaran yang dikembangkan MSQ untuk mendekatkan masyarakat kepada Al-Qur’an melalui kajian yang terarah, mudah dipahami, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.

 

Penulis: Tim Media MSQ

Editor: Paisal Firmansyah  |  Foto: Dokumentasi MSQ

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *